Festival Ogo-ogoh di Lapangan Monas,15/03. Digelar menyambut Hari Raya Nyepi 1932 Saka.
Topik
Tafsir Baru Ogoh-Ogoh
TEMPO Interaktif, Jakarta - Nun di Banjar Gemeh Putu Marmar Herayukti terlihat sibuk memoles kembali ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh bertema “Maricalina” karya Marmar itu adalah satu dari puluhan ogoh-ogoh di Kecamatan Denpasar Barat, Bali, yang lolos seleksi. Menurut Marmar, karyanya itu akan tampil dalam final lomba ogoh-ogoh se-Kota Denpasar pada 15 Maret ini, tepat pada malam pengrupukan – sehari sebelum Nyepi di Patung Catur Muka Denpasar.
Lomba sekaligus festival ogoh-ogoh tersebut digelar untuk menyambut Tahun Baru Saka 1932 yang jatuh besok. Sebanyak 318 dari 385 sekaa truna-truni (STT), perkumpulan pemuda setiap banjar, di Denpasar yang mengikuti lomba tersebut. Dan di masing-masing kecamatan telah terpilih enam finalis, termasuk ogoh-ogoh karya Marmar yang mewakili Banjar Gemeh, Desa Dauh Puri Kangin, Kecamatan Denpasar Barat.
Marmar, arsitek di balik “Maricalina”, menyatakan ogoh-ogohnya itu mengambil kisah dari Kitab Ramayana. Tatkala Rama, Sita, dan Laksamana dibuang ke hutan bertemu dengan raksasa Rahwana. Sang raksasa berniat mempersunting Sita dan berubah wujud menjadi seekor kijang Maricalina. Rama mengejar kijang itu dan berhasil memanahnya.
Menurut Marmar, setting kisah pewayangan Ramayana jarang mendapat perhatian. Itu pula yang melatar belakangi pembuatan ogoh-ogoh bertema “Maricalina”. Ogoh-ogoh setinggi 5 meter itu berwujud raksasa Maricalina berwajah seram yang dadanya tertembus panah hingga mengeluarkan darah. “Untuk membuat ogoh-ogoh itu dibutuhkan dana sekitar Rp 8 juta,” katanya.
Jika Marmar menghabiskan biaya Rp 8 juta, Ketut Wira Anggara Putra, Ketua STT Yowana Saka Bhuwana, Banjar Taensiat, Desa Dangin Puri Kaja, mengaku merogoh kocek hingga Rp 27 juta untuk pembuatan ogoh-ogohnya bertajuk “Candra Baewara” yang berwujud raksasa Salya sembilan kepala. Ya, angka yang fantastis untuk sebuah ogoh-ogoh.
Sang arsitek “Candra Baewara”, Keduk Santana Putra, menyatakan angka itu muncul karena ogoh-ogoh tersebut menggunakan bulu burung merak, rambut kuda, dan bulu burung kaswari. “Satu kepala saja menghabiskan dana hingga satu juta rupiah,” ujar Keduk, mahasiswa Institut Seni Indonesia Denpasar ini.
Tak hanya itu. Menurut Keduk, bambu pengusung ogoh-ogoh itu adalah bambu hitam yang didatangkan langsung dari Kalimantan. Berat total ogoh-ogoh itu mencapai 800 kilogram. Pada malam final, ogoh-ogoh itu akan diusung oleh 30 pemuda.
Menghabiskan dana puluhan juta demi ogoh-ogoh yang akan ditampilkan sehari menjelang perayaan Nyepi memang menjadi fenomena para pemuda di Pulau Dewata. Menurut salah seorang peserta lomba ogoh-ogoh, dana sebesar itu tak sulit untuk mendapatkannya. Banyak toko di Denpasar yang siap menjadi donatur, selain diambil dari kas pemuda.
Hingga kini boleh dibilang belum ada penelitian tentang siapa dan kapan ogoh-ogoh itu pertama kali muncul. Menurut pemilik sanggar Gases Sesetan Wayan Candra, ogoh-ogoh sudah muncul sejak sekitar 1950. Tapi ia baru mulai dikenal masyarakat pada 1960-an.
Dalam tesisnya bertajuk “Ogoh-ogoh dalam Ritual Nyepi di Bali”, Kadek Andhi Indrayana menyatakan, tradisi ogoh-ogoh sudah dikenal sejak ratusan tahun silam, yakni pada zaman Dalem Balingkang. Kala itu ogoh-ogoh digunakan untuk kelengkapan upacara Pitra Yadnya, ritual umat Hindu sebagai sarana bakti kepada orang tua atau leluhur seperti upacara ngaben.
Indrayana membagi ogoh-ogoh menjadi empat kategori. Pertama, ogoh-ogoh butha kala, raksasa dari sastra Hindu. Kedua, ogoh-ogoh berwujud para dewa, seperti Dewa Ganesha atau Dewa Siwa. Ketiga, ogoh-ogoh yang berceritakan tentang pewayangan, seperti Rahwana atau Maricalina. Terakhir, ogoh-ogoh kontemporer yang mengambil bentuk tokoh-tokoh mutakhir seperti Spiderman atau Superman.
Inspirasi ogoh-ogoh juga muncul dari tradisi Ngusaba Ndong Ning, pembuatan patung laki-laki dan perempuan yang dikawinkan sebagai lambang kesuburan. Sejak Nyepi ditetapkan sebagai hari libur nasional, di Kesiman, Denpasar Timur, digelar lomba onggokan yang kita kenal sekarang dengan nama ogoh-ogoh.
Tapi ogoh-ogoh baru benar-benar membumi sejak dilombakan pada Pesta Kesenian Bali 1990.
Sejak itu, tren ogoh-ogoh pun berkembang pesat. “Kini ogoh-ogoh tak hanya berwujud Rahwana menculik Sita, tapi juga Amrozy, Ronaldinho hingga Upin Ipin,” kata Wayan Candra.
Ini sejalan dengan orang Bali yang memang memiliki kreativitas seni. “Sepanjang tak menyimpang dari konsep butha kala dan mengganggu kelompok lain, saya pikir tak masalah. Ini yang saya pikir kenapa semakin hari, bentuk ogoh-ogoh makin variatif,” Candra menjelaskan.
I Wayan Agus Purnomo
Web via