foto

Dua warga Bali yang menjadi bertugas mengawasi pelaksanaan Hari Raya Nyepi, sedang berjalan di Denpasar, Bali (26/3). Foto: AP/Firdia Lisnawati


Topik


Umat Hindu di Mataram Mulai Catur Brata Nyepi  

TEMPO Interaktif, Mataram - Sejak pukul 06.00 pagi tadi, Selasa (16/3) seluruh umat Hindu di Mataram Nusa Tenggara Barat melakukan Catur Brata Nyepi atau empat pengendalian Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, Amati Lelanguan. Ini adalah media interospeksi diri untuk mengevaluasi perbuatannya apakah sudah sesuai dengan ajaran agama, Prada dan Bakti.

Amati Geni berarti tidak menyalakan api (penerangan) atau mengendalikan api amarah dalam diri. Amati Karya tidak melakukan aktivitas (bekerja). Amati Lelungan adalah tidak bepergian keluar rumah. Sedangkan Amati Lelanguan yaitu tidak mengumbar hawa nafsu atau tidak menikmati hiburan.

Di seputar kota Mataram mulai dari Lingkungan Pancaka Gomong, Karang Medain, Jeruk Manis atau Karang Belumbang Cakranegara hingga Pagesangan dan lainnya yang dihuni umat Hindu suku Bali dalam keadaan tertutup akses gang dan jalan lingkungannya. Beberapa warga berpakaian adat tampak berjaga di mulut jalan masuk.

Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia Nusa Tengggara Barat I Gde Renjana mengatakan Catur Brata Nyepi yang diikuti oleh 200 ribu jiwa umat Hindu di sana diantaranya 75 ribu jiwa di kota Mataram, sebagai tanda terima kasih kepada sang pencipta. "One stop activity. Untuk ruang nafas bagi alam agar kehidupan yang lebih bersih,’’ katanya kepada Tempo, Senin (15/3) malam.

Menurutnya, Nyepi berkaitan dengan Tri Hita Karana. Keselarasan hubungan manusia dengan pencipta, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan. Besok, setelah 24 jam melakukan Catur Brata Nyepi, dilakukan Ngembak Geni untuk membersihkan diri dan terima kasih menyambut Tahun Baru Saka dengan kesucian lahir dan batin. Selain Simakrama yang diwujudkan saling memaafkan kekeliruan dalam kehidupan, juga menjadwalkan acara resmi Sesanti yang akan dilakukan April mendatang,

SUPRIYANTHO KHAFID