Tanah longsor di Dusun Erat Mate, Desa Mekar Sari, Lombok Barat, NTB, Minggu (19/4). Sekitar 23 rumah terkena tanah longsor yang terjadi Sabtu (18/4) sore, tiga diantaranya mengalami kerusakan cukup parah, tidak ada korban jiwa pada kejadian tersebut
Topik
Enam Kecamatan Di Gungungkidul Rawan Longsor
TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Sebanyak enam kecamatan di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, rawan longsor. Untuk itu, pemerintah setempat menyediakan dana alokasi khusus sebesar Rp 1,5 miliar untuk memperbaiki talud yang rusak.
“Karena kondisi alam yang berbukit dan banyak tanah yang labil, maka kami akan memperkuat talud, terutama di pinggir jalan yang membahayakan pemukiman,” kata Budiharjo, Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa, Politik, Perlindungan Masyarakat dan Penanggulangan Bencana Kabupaten Gunugkidul, Rabu (17/3).
Keenam kecamatan yang rawan longsor adalah Kecamatan Gedangsari, Ngawen, Semin, Nglipar, Patuk dan Kecamatan Ponjong. Beberapa waktu lalu, longsor sudah melanda keenam kecamatan tersebut.
Kecamatan Gedangsari yang paling parah terkena longsor. Saat itu, longor mengakibatkan jalan yang menghubungkan Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, terputus dan sebuah rumah rusak parah. Talud yang berada di pinggir jalan rusak parah.
“Talud itu dibangun empat tahun lalu. Lantaran kondisi tanah di tempat itu sangat labil, jika terjadi hujan deras maka bisa terjadi longsor dan merusak talud,” kata dia.
Menurut Camat Gedangsari Sudjoko, kerugian akibat talud jebol yang terletak di Desa Watugajah diperkirakan mencapai Rp300 juta. “Tanah di daerah kami memang labil. Jika sering turun hujan, maka sering pula terjadi longsor, masyarakat supaya waspada,” kata dia.
Selain di Kabupaten Gunungkidul, empat kecamatan di Kabupaten Bantul, Yoygakarta, yang berbatasan dengan Gunungkidul juga rawan longsor. Empat kecamatan tersebut adalah Kecamatan Pleret, Imogiri, Pundong dan Piyungan. Menurut Winaryo, peneliti di Pusat Studi Bencana Alam Universitas Gadjah Mada, perbukitan di Gunungkidul dan Bantul termasuk tinggi dan labil.
"Pascagempa 2006, perbukitan banyak yang merekah. Jika terjadi hujan deras berpotensi longsor karena air banyak yang masuk ke dalam rongga rekahan," kata dia. Penyebab lain, menurut Winaryo, banyaknya masyarakat Gunungkidul yang memangkas bebatuan bukit untuk dijadikan batu hias, tegel, dan dinding hias. "Kegiatan itu mengakibatkan kerusakan alam,” kata dia.
MUH SYAIFULLAH