Topik
Diskusi Novel Obama Bahas Pluralisme
TEMPO Interaktif, Jakarta - Penggagas dan koordinator nasional Gerakan Peduli Pluralisme (GPP) Damien Dematra mengadakan diskusi Novel Obama Anak Menteng, di Galeri Cafe Taman Ismail Marzuki, Rabu (17/3) malam. Diskusi membahas pluralisme di Indonesia itu sekaligus reuni bagi ‘teman-teman Obama’ yang dulu sekolah di SDN 01 Besuki, Menteng.
Damien Damatra mengatakan kalau dalam novelnya dia mencoba untuk melihat pluralisme dari sudut pandang budaya dan gaya hidup. “Saya juga mencoba ‘create awareness’ dalam masyarakat bahwa pluralisme dan perbedaan itu sah-sah saja,” kata dia.
Direktur Pasca-Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra menyatakan bahwa masyarakat Indonesia tidak perlu takut akan pluralisme. “Sebab pluralisme bukan berarti sinkretisme atau penggabungan budaya ataupun agama,” kata dia.
Menurut Azyumardi, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah dalam urusan menjunjung tinggi pluralisme. Contohnya adalah mengenai status orang yang tidak beragama. “Mereka tetap perlu dilindungi,” kata Azyumardi.
GPP adalah sebuah gerakan bervisi menciptakan kesadaran terhadap pluralisme dalam masyarakat. Program-programnya berupa forum diskusi pluralisme berkala, mengadakan perlombaan esai tentang pluralisme, perlombaan menggambar, pembuatan iklan masyarakat, menerbitkan buku, hingga membuat film dokumenter. Soft launching gerakan ini bertepatan dengan ulang tahun Nurkholis Madjid atau Cak Nur yang juga merupakan tokoh pluralisme Indonesia.
Direktur Eksekutif Ma’arif Institute, Fajar Riza Ul Haq, yang dalam diskusi berperan sebagai moderator menganggap perlu menunggu terealisasinya harapan-harapan Obama. “Kita tunggu agar menjelma menjadi kebijakan-kebijakan politik yang konkret,” kata dia
Azyumardi sendiri menilai Obama adalah tamu yang harus dihormati. “Kalau demonstrasi penolakan kunjungan Obama pasti ada dilakukan di negara mana saja dan itu sudah biasa,” kata dia.
ASWIDITIYO NEDWIKA
Web via