Topik
Guru: Kutipan ujian nasional tak terhindarkan
TEMPO Interaktif, Jakarta - Penarikan pungutan liar potensial dilakukan sekolah untuk menyelenggarakan Ujian Nasional tahun ini. Satu alasannya adalah untuk menutupi biaya operasional Ujian Nasional yang biasanya cair setelah penyelenggaraan Ujian Nasional.
Sekretaris Jenderal Federasi Guru Independen Indonesia Iwan Hermawan mengungkapkan kondisi yang dinilainya biasa terjadi setiap tahun itu ketika dihubungi lewat telepon, Rabu (17/3). "Sekolah terpaksa mengeluarkan dana untuk menambal biaya operasional Ujian Nasional dengan melakukan pungutan kepada siswa," kata Iwan.
Biaya operasional biasanya digunakan untuk membayar honorarium dan konsumsi pengawas serta pengadaan alat tulis kantor. Pungutan ini biasanya dimasukkan ke dalam Iuran Peserta Didik Baru (IPDB) dan Iuran Bulanan. "Biaya keseluruhan untuk dua biaya ini Rp 7 juta," kata Iwan.
Kebutuhan itu belum termasuk sekolah yang harus menanggung beban ekstra biaya distribusi soal. Pemerintah hanya menyediakan rayon sebagai pos terakhir sebelum soal sampai di sekolah. Karena permasalahan jarak, biasanya panitia Ujian Nasional berinisiatif membuat subrayon sebagai perantara rayon dan sekolah.
Kebutuhan ini dianggap penting karena soal harus diambil setiap hari sementara sebagian sekolah berjarak lebih dari 100 km dari rayon. "Biaya subrayon dibebankan ke sekolah," kata dia.
Resita Lubis dari Komunitas Air Mata Guru juga membenarkan adanya pungutan tambahan operasional Ujian Nasional ini. Menurut dia, dana dari pemerintah biasanya telat sampai ke sekolah. "Sekolah harus membiayai sendiri karena dananya biasanya telat sampainya," kata dia.
Pemerintah, lewat Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal, menegaskan siang tadi kalau sekolah atau pihak manapun dilarang memungut biaya penyelenggaraan Ujian Nasional kepada siswa atau orang tua siswa. Ada sanksi untuk mereka yang melanggar karena kebutuhan biaya seluruhnya sudah ditanggung dan cair sejak seminggu sebelum ujian digelar 22 Maret.
Namun Iwan membantah jika dana itu sudah mengucur di sekolah. "Untuk wilayah Kota Bandung yang lokasinya dekat dari Jakarta saja belum sampai," kata dia.
ANTON WILLIAM