TEMPO/Imam Sukamto
Topik
Infografis
Rupiah Merapat ke Level 9.100
TEMPO Interaktif, Jakarta - Kebijakan Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat, yang mempertahankan kebijakan suku bunga rendah untuk waktu yang lebih lama kembali memicu animo investor memburu aset-aset berisiko di pasar berkembang. Alhasil, bursa saham regional siang ini melonjak, dan imbasnya mata uang kawasan ikut terdongkrak.
Nilai tukar rupiah pada Rabu (17/3) siang berada di level 9.115 per dolar Amerika, atau menguat 50 poin dari penutupan Senin lalu yang masih berada di posisi 9.165 per dolar Amerika. Posisi ini merupakan level terkuat sejak 7 Agustus 2008 sebelum dua lembaga pembiayaan perumahan Freddie Mac dan Fannie Mae diambil alih pemerintah Amerika.
Pemerhati pasar uang dari PT Harvest International Futures, Tony Maryano, mengemukakan suku bunga The Fed yang dipertahankan pada level 0,25 persen membuat mata uang kawasan terapresiasi terhadap dolar Amerika. Dan mendorong rupiah menguat mendekati level 9.100 per dolar Amerika.
Suku bunga The Fed yang dipertahankan tetap di 0,25 persen membuat selisih suku bunga dengan rupiah tetap terjaga lebarnya, sementara suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate masih di level 6,5 persen. Sehingga para pelaku pasar kembali melepas dolar Amerika-nya.
“Fundamental ekonomi domestik yang masih cukup solid, serta kasus Century tidak terbukti berdampak terhadap pasar para investor kembali berinvestasi ke dalam mata uang lokal seiring naiknya bursa saham,” kata Tony yang mengingatkan bahwa aksi ambil untung bisa saja terjadi dan dapat menahan penguatan rupiah.
VIVA B. KUSNANDAR