foto

TEMPO/Imam Sukamto

Sri Mulyani: Hadapi Krisis Perlu Menteri Keuangan Nekat

TEMPO Interaktif, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan Indonesia memerlukan seorang menteri keuangan yang nekat untuk melakukan terobosan menghadapi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang ''berdarah-darah''. Itu juga yang perlu dilakukan seorang menteri keuangan ketika negaranya memerlukan exit policy dari jurang krisis.

"Adjustment gampang, tinggal cari menteri keuangan yang nekat, karena harus berani collect revenue dan cut budget," kata Sri Mulyani dalam acara "The 10th Annual Citi Indonesia Economic and Political Outlook" di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (18/3).

Menurut dia, melakukan penyesuaian dalam kondisi krisis tidaklah semudah yang dikatakan. Jika pemerintah mengurangi pengeluaran maka kenikmatan masyarakat akan berkurang dan ini bisa menciptakan ketegangan tersendiri. "Masyarakat akan mengeluhkan bagaimana pemerintah tega memotong budget di tengah kondisi yang sedang krisis," tuturnya.

Sebaliknya, menurut Sri Mulyani, jika ingin meningkatkan pendapatan, maka pemerintah harus bekerja lebih keras lagi dan hal tersebut bisa dilakukan jika kondisi perekonomian Indonesia cukup sehat. Dan hal tersebut hanya dapat dilakukan jika Indonesia berada dalam kondisi yang baik dan aman.

Sri Mulyani juga mengemukakan bahwa saat ini pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus menjaga kredibilitas dan kepercayadiriannya untuk menciptakan peraturan yang konsisten. "Ketidakkonsistenan bisa menciptakan collapse," imbuhnya.

Sri Mulyani yakin bahwa Indonesia akan mampu menghadapi masalah ekonomi politik di Indonesia pada tahun 2010. "Kalau dua tiga tahun lalu yang begitu sulit saja kita bisa bertahan kenapa sekarang harus dipertanyakan lagi," tuturnya.

Sri Mulyani mengingatkan bahwa Indonesia harus lebih berhati-hati pada semester kedua tahun 2010, karena ada kemungkinan sejumlah negara lain yang terkena krisi global akan melakukan exit strategy. "Bernanke (Gubernur The Federal Reserved) mengatakan AS belum akan melakukan exit policy, tapi Tim Geithner (Menteri Keuangan AS) mengatakan APBN Amerika Serikat sudah berdarah-darah," tambah Sri Mulyani.

Sejumlah negara Eropa juga sedang menuju ke sana. "Yunani, Spanyol, Portugal, Italia, APBN-nya sedang red alert (tingkat waspada)," tambahnya.

NALIA RIFIKA