TEMPO/Dwianto Wibowo
Infografis
Dilanda Aksi Ambil Untung, Indeks Sesi Pertama Turun 7,7 Poin
TEMPO Interaktif, Jakarta - Di awal pembukaan bursa domestik sempat bergerak positif mengikuti bursa regional, namun kekhawatiran terhadap aksi ambil untung yang bisa menekan indeks membuat indeks berbalik arah turun.
Pada perdagangan sesi pertama Kamis (18/3) siang ini indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup turun 7,761 poin (0,28 persen) ke level 2.748,501 dari posisi kemarin di 2.756,262.
Volume perdagangan mencapai 4,27 miliar unit, dengan nilai mencapai Rp 2.87 triliun, serta frekwensi lebih dari 81 ribu kali. Sebanyak 97 saham turun, dan 73 saham naik, serta 67 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga. Namun, investor asing masih memcatat pembelian bersih senilai Rp 412,6 miliar.
Nilai tukar rupiah siang ini pukul 12:15 WIB stagnan seperti penutupan Rabu kemarin di level 9.120 per dolar AS.
“Indeks saat ini benar – benar sudah memasuki area jenuh beli,” ujar Edwin Sebayang, Kepala Riset PT Bhakti Securities. Dengan melihat berbagai indikator teknikal, indeks lokal memang sudah sangat rawan koreksi. Karena penguatan bursa kemarin lebih disebabkan oleh investor asing yang memanfaatkan momentum jangka pendek dengan melempas dolar AS nya masuk ke pasar saham.
“Beberapa saham unggulan sudah hampir dan bahkan ada yang melebihi target harga selama 12 bulan kedepan (overvalued). Ini yang membuat bursa rawan aksi ambil untung sehingga berpotensi menekan indeks,” paparnya.
Pergerakan indeks hari ini diprediksikan akan bergerak dalam kisaran antara 2.715 hingga 2.785.
Saham–saham yang menahan penguatan indeks kali ini antara lain: Bank BCA jatuh Rp 300 menjaid Rp 5.500, PT Telkom turun Rp 150 menjadi Rp 8.450, Semen Gresik melemah Rp 150 menjadi Rp 7.700, Indocement turun Rp 100 menjadi Rp 13.900, serta Bank BRI juga tergelincri Rp 50 menjadi Rp 7.800 per saham.
Tetap bertahannya suku bunga The Fed di 0,25 persen, serta naiknya rating Indonesia mendekati tingkatan investasi (investment grade) memicu terdepresiasinya dolar. Dan mereka mengalihkan investasinya ke bursa saham membuat indeks naik tajam hingga ke level tertingginya dalam 25 bulan terakhir. “Harapan pembagian dividen oleh emiten, kenaikan bursa regional, serta menguatnya harga komoditas menjadi motor penggerak indeks kemarin,” imbuhnya.
VIVA B. KUSNANDAR