Duo Kribo
Topik
Infografis
Merayakan Duo Kribo
TEMPO Interaktif, Jakarta di ambang 1978. Persaingan dua rocker itu memanas. Ahmad Albar dan Ucok Harahap--dua musisi cadas--bersaing ketat menjadi superstar di Ibu Kota. Ucok yang datang dari Medan, Sumatera Utara, menantang Ahmad Albar--lulusan terbaik sekolah musik bergengsi di Roma, Italia. ”Aku tak takut, dia kribo, aku pun kribo,” kata Ucok percaya diri.
Album Ahmad Albar bersama band-nya sukses menembus angka 300 ribu kopi. Tak berselang lama, album yang dirilis Ucok Band bisa melampauinya. Persaingan mereka pun makin sengit dengan hadirnya Monalisa (Eva Arnaz), gadis incaran Ahmad Albar yang mulai merapat ke kubu Ucok.
Perang di antara dua rocker itu menjadi kisah utama film Duo Kribo yang kembali diputar dalam perhelatan Bulan Film Nasional 2010 di Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Ahad siang lalu. Pemutaran film produksi 1978 yang skenarionya ditulis Remy Sylado itu untuk merayakan ditemukannya kembali kopi film tersebut dalam format 35 milimeter di Inter Studio, Jakarta.
Sejak diputar di sejumlah bisokop di seluruh Indonesia sekitar 32 tahun silam, master film itu kemudian menghilang begitu saja, tanpa ada kejelasan musababnya. Sekitar tiga bulan lalu, saat Ucok AKA Harahap sakit keras, tim dari Kineforum mencoba menelusuri kembali keberadaan film klasik tersebut. Beruntung, saat ditemukan, sekitar 80 persen kondisi film itu masih cukup baik, masih bisa diputar.
Boleh dibilang Duo Kribo arahan sutradara Eduard Pesta Sirait merupakan film musikal terbaik yang pernah diproduksi sineas Indonesia. Film legendaris tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah musik rock di Tanah Air.
Kita tahu, Duo Kribo sendiri adalah proyek kolaborasi musikal sukses antara vokalis grup rock God Bless, Ahmad Albar, dan vokalis grup AKA, Ucok Harahap, pada 1977. Duo itu telah merilis sekitar empat album dan rata-rata albumnya meledak di pasar. Bahkan popularitas mereka merambah hingga ke Singapura dan Malaysia. Ucok AKA meninggal pada Desember 2009.
Setelah Duo Kribo, sejumlah sineas kita mencoba mengikuti jejak membuat film musikal atau film yang mengambil tema musik. Tahun lalu, misalnya, Garin Nugroho merilis film Generasi Biru, yang berkisah tentang band Slank. Sebelumnya, ada pula sineas yang mencoba membumbui filmnya dengan musik, seperti Punk in Love, Realita Cinta dan Rock n Roll, dan Garasi.
Sebagai film musikal, Generasi Biru boleh dibilang cukup berhasil. Film yang dibintangi para personel grup rock Slank itu mengidentitaskan musik sebagai bentuk perlawanan. Dalam film itu, lewat lagu-lagu yang dibawakannya, Slank mengkritik pemerintah yang korup dan menyuarakan antikemapanan terhadap norma sosial yang membelenggu.
Dalam film Punk in Love, musik lebih tergambar sebagai identitas komunitas. Misalnya, dalam adegan ketika anak-anak punk terpaksa mengamen di lampu merah dengan membawakan lagu-lagu dangdut. Ada ironi yang disodorkan, komunitas punk yang biasanya mengusung musik rock metal terpaksa mendendangkan dangdut demi sesuap nasi.
Ya, bila dibandingkan dengan Duo Kribo, substansi cerita sejumlah film musikal yang hadir belakangan cukup jauh berbeda. Duo Kribo benar-benar berhasil menyuguhkan realitas yang mewarnai kondisi musik di Tanah Air, khususnya rock, lengkap dengan segala macam konflik yang masih relevan hingga sekarang.
Misalnya, adegan ketika Ucok AKA akan mengikat kontrak dengan sebuah label rekaman. Di situ digambarkan bagaimana berkuasanya seorang bos rekaman. Atau, adegan ketika penabuh drum band Ahmad Albar yang hengkang dan pindah ke grup Ucok karena perbedaan pandangan. Konflik seperti itu masih banyak ditemui pada band sekarang.
Film Duo Kribo diakui sejumlah kritikus sebagai tolok ukur perjalanan musik rock di Indonesia. Lewat musik rock yang diusungnya, film tersebut menggambarkan kondisi realitas industri musik di Tanah Air yang masih acap ditemui hingga kini.
Setelah menonton pemutaran film Duo Kribo di Kineforum, penulis skenario Prima Rusli terlihat masih tertegun pada sosok Ahmad Albar dan almarhum Ucok AKA Harahap yang belum tergantikan. “Saya rasa, hingga kini belum ada regenerasi dari tokoh yang identitasnya sangat kuat itu,” katanya.
AGUSLIA HIDAYAH