Pertunjukan kesenian Cokek "Kembang Antik" di Teater Studio, TIM, Jakarta. (TEMPO/Arnold Simanjuntak)
Topik
Tari Cokek Kembang Antik
TEMPO Interaktif, Jakarta - Rabu malam kemarin, koreografer Kristiono Soewardjo menyuguhkan pentas tari klasik Betawi yang cukup langka: Tari Cokek. Menurut Kristiono, pertunjukkan yang digelar di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, itu adalah tarian kontemporer yang mengambil sebuah pijakan dari Tari Cokek. “Karya ini merupakan sebuah penciptaan baru yang bukan tarian tradisi dan bukan revitalisasi,” katanya.
Kita tahu, Tari Cokek merupakan tarian klasik Betawi yang diiringi gambang kromong dan ditarikan berpasangan, laki-laki dan perempuan. Penari perempuannya mengenakan kebaya yang disebut cokek. Lewat pertunjukkan itu, Kristiono mencoba mengembangkan Tari Cokek, dari sebuah hiburan pinggiran menjadi seni pertunjukkan yang dipentaskan di gedung pertunjukkan yang representatif.
Malam itu, pentas tarian tersebut mengambil tema Kembang Antik. Tema itu berkisah tentang perjalanan seorang perempuan golongan bawah bernama Kumpe Chuen (diperankan Asteria Dian), yang mencari nafkah dengan menjadi wayang cokek. Waktu berlalu, Kumpe pun menjelma menjadi wayang cokek yang masyhur. Setelah menikah dan punya anak, Kumpe ingin mendidik anaknya Cie Lie (Achadia Suci Dea Shinta) menjadi seorang wayang cokek yang termasyur seperti dirinya.
Pertunjukkan tari, yang diiringi grup gambang kromong dari Universitas Negeri Jakarta, itu bertambah meriah karena dialog-dialog dalam dialek Betawi yang kental dari para pemainnya mengundang gelak tawa para penonton yang memenuhi gedung Teater Kecil.
Menurut Kristiono, Kembang Antik mempunyai arti tersendiri. Kembang adalah simbol seorang perempuan cantik yang disukai laki-laki. Adapun antik diartikan sebagai sesuatu yang, meskipun sudah tua, makin tinggi nilainya.
Konsep cerita itu, tutur Kristiono, diadaptasi dari buku kesusastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia, yakni Gambang Jakarta, Nyai Dasima, dan Cau Bau Kan. “Saya meramu cerita dari kesusastraan tersebut hingga menjadi Kembang Antik,” kata koreografer yang tengah menempuh program pasca sarjana di Institut Kesenian Jakarta ini.
Herry Fitriadi