Wake -Up
Topik
Masa Puber Paguyuban Sidji
TEMPO Interaktif, Jakarta -
Seorang gadis kecil berjongkok di tanah. Tangannya sibuk mengais-ngais kerikil, mengabaikan boneka beruangnya yang tergeletak di tanah. Namun ada yang aneh. Boneka beruang itu mengenakan masker yang menutup mulut dan hidungnya. Perupa Pencusanto, 37 tahun, menghadirkan adegan aneh itu ke dalam lukisan berjudul Polution yang kini sedang dipamerkan di Tembi Contemporary, Bantul. Pameran bertajuk Puber #1 ini diikuti 18 perupa yang tergabung dalam Paguyuban SIDJI dan berlangsung hingga 30 Maret 2010.
“Ini soal ekspresi kegelisahan saya tentang kerusakan lingkungan. Saya mulai khawatir tentang masa depan anak-anak di tengah kerusakan lingkungan yang makin hebat,” kata mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta angkatan 1997 yang tak sempat menamatkan studinya ini.
“Polution” sepertinya menjadi sebuah peneguh bagi Pencusanto tentang pilihan obyek lukisannya. Dulu, ia mengangkat obyek beragam untuk lukisan realisnya. Sejak dua tahun belakangan ini Pencusanto fokus pada obyek diri sendiri dan anak-anak, meski masih dengan gaya realis dengan angle yang ekstrem. Pada “Polution”, misalnya, Pencusanto membidik obyeknya tepat dari atas.
Puber #1 adalah pameran keenam Kelompok Paguyuban SIDJI, sebuah komunitas perupa asal Imogiri, Bantul, yang berdiri sejak Mei 1999. Bagi Kelompok Paguyuban SIDJI, pameran kali ini terasa sangat istimewa karena merekam perubahan proses berkesenian anggotanya, layaknya perubahan masa kanak-kanak ke masa dewasa atau pubertas.
Tak hanya Pencusanto yang berubah. Perupa Kuat, 37 tahun, yang dulu banyak melukis dengan corak abstrak, sekarang sibuk bereksplorasi dengan teknik stensil, screen printing dan spray paint seperti terlihat pada karyanya yang berjudul Wake Up. Demikian juga dengan Dwi Haryanta, 34 tahun. Dwi yang dulu akrab dengan gaya dekoratif, kini cenderung lebih asyik bermain dengan figur dan obyek tunggal. Tengok saja salah satu karyanya yang berjudul Coquetish.
Namun, ada juga perupa yang tetap setia dengan gayanya sejak awal. Yun Suroso, 47 tahun, misalnya, tetap setia dengan gaya realis dengan obyek khas sepeda tua. Pada pameran ini, Yun menghadirkan karya yang berjudul Terbang Menuju Tanah Harapan berupa sepeda tua yang terbang dengan tenaga dorong tabung gas tiga kiloan.
Menurut Samuel Indratma, seniman yang membuka pameran ini, Puber #1 merupakan bagian dari survival para seniman anggota Paguyuban SIDJI yang merasa menjadi seniman pinggiran. Karya-karya yang dipamerkan kali ini, menurutnya, rata-rata sudah sangat mumpuni dari sisi kualitas visual mengingat sebagian besar berlatar belakang akademik.
Cuma, lanjutnya, materi pameran seharusnya bisa lebih progresif lagi, lebih gila-gilaan karena materi pameran merupakan hasil diskusi dari beberapa kali pertemuan. “Lebih baik jika ada tema tertentu yang kemudian dieksekusi oleh masing-masing perupa. Kalau kenyataannya lebih banyak karya yang bersifat individual, percuma saja berkumpul,” ujarnya.
Heru CN