foto

Visualisasi gunung Slamet dari Pos Pengamatan Gunung Api Slamet. FOTO: ARIS ANDRIANTO

Koalisi Pecinta Alam: Sumber air di Gunung Slamet mengkhawatirkan  

TEMPO Interaktif, Purwokerto - Koalisi dari empat organisasi pecinta alam meminta pemerintah daerah serius menyikapi berkurangnya sumber mata air di kawasan Gunung Slamet. Sepuluh tahun lalu terhitung ada 3000 mata air di kawasan ini, tapi sekarang hanya 900.

“Kawasan ini bisa krisis air hanya dalam lima tahun ke depan,” kata koordinator Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Air Banyumas, Sungging Septivianto, Senin (22/3). Mereka berseru sebagai refleksi atas Hari Air Sedunia yang jatuh pada hari ini.

Koalisi meminta pemerintah daerah merevitalisasi hutan kawasan Slamet sebagai daerah tangkapan air karena perannya menyediakan sumber mata air bagi lima kabupaten. Menyusutnya jumlah mata air dari 3.000 menjadi 900, Sungging mengingatkan, sudah cukup menghawatirkan.

Penyusutan itu disebabkan penebangan hutan yang cukup tinggi dan kurang terkontrol. Agar tidak semakin parah, mereka menuntut pemerintah untuk membenahi kebijakan sumber daya air. Pun dengan pembenahan jaringan infrastruktur irigasi sungai.

Koalisi para pecinta alam itu berencana menggelar ruwatan sumber mata air, 28 Maret nanti. “Masyarakat akan diajak bagaimana mencintai hutan agar sumber mata air bisa lestari,” kata Sungging.

Dinas Kehutanan Purbalingga bukan tidak tahu kondisi itu. “Ada 174 sumber mata air yang terancam hilang jika hutan tidak dijaga,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Purbalingga, Lily Purwati.

Khusus 174 sumber mata air tersebut, Lily menyebutkan debitnya terus turun tiap tahun. Selain digunakan masyarakat, sejumlah perusahaan besar juga mengeksploitasi sumber mata air itu. “Tanggal 25 kami akan ajak masyarakat untuk menanam pohon di daerah hulu dan kawasan Gunung Slamet,” kata Lily.

ARIS ANDRIANTO