Gunung Cihuni Retak, Pemerintah Garut Diminta Relokasi Warga

TEMPO Interaktif, GARUT - Badan Pusat Vulkanologi dan Mitagasi Bencana Geologi merekomendasikan 20 rumah warga di Kampung Cukang, Desa Cinta, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Garut, Jawa Barat, untuk segera direlokasi. “Relokasi ini harus segera dilakukan,” kata Kepala Desa Cinta, Gaos Hamdani, di ruang kerjanya Senin (22/3).

Menurut Gaos, retakan gunung Cihuni berada atas pemukiman warga sepanjang 250 meter itu terhadi akhir Februari lalu. Pergerakan tanah hampir terjadi setiap hari. Bahkan, beberapa hari terakhir ini, puluhan pohon besar roboh dan sebagian miring akibat pergerakan tanah. Potensi longsor itu diperkirakan sekitar empat hektar yang dapat mengubur sekitar 332 warganya.

Perkampungan yang dihuni 67 rumah warga itu dinyatakan terancam, 20 diantaranya harus segera direlokasi ke tempat yang lebih aman. Ke-20 rumah tersebut tersebar di Rt 01, 02 dan 03, RW 04 dengan jumlah jiwa mencapai 97 orang. “Mereka telah kami ungsikan di tenda penampungan untuk menghindari hal yang tidak diharapkan,” ujarnya.

Menurut Gaos, terjadinya pergerakan tanah itu diduga akibat kesalahan penggunaan lahan. Di sekitar lereng tersebut berubah fungsi yang dijadikan kolam dan areal pesawahan. Karenanya, untuk mengantisipasi meluasnya retakan tanah saat ini pihaknya bersama warga mengeringkan kolam dan lahan persawahan. Selain melakukan pemadatan terhadap retakan-retakan tanah.

Juru Bicara Pemerintah Kabupaten Garut, Dikdik Hendrajaya, menyebutkan,dalam suratnya, PVMBG menyatakan gerakan tanah yang berlokasi di Kampung Cukang, Desa Cinta, Kecamatan Karangtengah tersebut terjadi pada Kamis (18/2). Retakan tersebut berkembang menjadi nendatan dan menjadi longsoran. “Potensi gerakan tanah susulan cukup tinggi bila air terus masuk ke dalam tanah,” ujarnya.

Badan mitigasi itu juga menyebut, retakan yang berada di puncak dan bagian tengah bukit tidak mengarah ke seluruh perkampungan Cukang dan hanya mengancam 7 rumah di RT 03 dan 13 rumah di RT 02. Air yang berada di sawah dan kolam di Kampung Cukang yang masuk ke bawah permukaan tanah dapat memicu terjadinya gerakan tanah susulan.

Rekomendasi yang dikeluarkan vulkanologi antaralain retakan harus ditutup dengan tanah dan dipadatkan untuk mencegah masuknya air permukaan ke dalam retakan yang dapat memicu gerakan tanah. Sebagian besar pemukiman penduduk di Kampung Cukang tetap dipertahankan. Pemukiman yang terbuat dari rumah panggung cocok untuk daerah ini, karena akan tahan dari guncangan gempa bumi dan gerakan tanah lambat.

Bupati Garut Aceng H.M Fikri mengaku belum dapat memastikan untuk melakukan relokasi terhadap warganya. Alasannya, proses relokasi memerluklan waktu yang cukup lama. Selain itu pihaknya juga harus menentukan lahan yang dinilai cukup aman untuk dihuni oleh warganya tersebut. Sedangkan dana untuk relokasi direncanakan akan mengambil dari pos biaya tidak terduga dan bantuan dari provinsi Jawa Barat. “Mudah-mudahan juga tidak lama, karena semakin lama dipengungsian akan semakin membebani kita,” ujarnya di ruang kerjanya.

SIGIT ZULMUNIR