foto

Foto materi apmeran Adopt Adapt di Tujuh Bintang Art Space Yogya, 17-27 Maret 2010



Yu Mona dari Huruf dan Tanda Baca  

TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Sosok perempuan sedang menyusui anak itu sepintas tak istimewa. Sebab, wajahnya sangat akrab. Dialah Monalisa, figur imajinatif dalam lukisan karya Leonardo da Vinci. Kalau kali ini dia terlihat menyusui anak, itu pun kenakalan yang jamak dilakukan sejumlah perupa.

Jika diteliti lebih detail, sosok itu ternyata unik. Citraannya tercipta dari susunan ribuan huruf dan tanda baca. Yu Mona, begitu judul lukisan itu, karya perupa Danny Ardhiyanto, 35 tahun. Pameran bertajuk "Adopt! Adapt!" itu digelar di Tujuh Bintang Art Space, Yogyakarta, 17-27 Maret 2010.

Untuk membuat karya seperti itu, butuh waktu dan ketelitian tinggi. Tidak mengherankan jika Danny harus duduk di depan komputer selama 13-17 jam per hari, dan memakan waktu hampir tiga minggu. Dia harus cermat menempatkan huruf dan tanda baca, agar bayangan gelap-terang tergambar dengan sempurna.

Yu Mona tersusun dari huruf dan tanda baca dengan pilihan huruf Times New Roman ukuran dua di layar komputer. Yu Mona mini itu kemudian di-print dengan pembesaran 500 persen, kemudian dicetak digital dengan pembesaran 5,5 kali.

Uniknya, Danny tak sembarangan menempatkan huruf dan tanda baca. Jika dicermati, rambut perempuan ini tersusun dari kalimat yang memberi informasi tentang Leonardo da Vinci, tentang museum tempat lukisan Monalisa disimpan, juga informasi bahwa lukisan itu pernah dicuri.

"Saya mengadopsi karya Leonardo da Vinci, kemudian mengadaptasikannya pada situasi masyarakat Jawa, terutama ibu-ibu yang sedang menyusui anaknya," kata lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta 2006 ini. Proses adopsi dan adaptasi itu, dia melanjutkan, kemudian diberi sentuhan teknologi melalui perangkat lunak Microsoft Word.

Proses adopsi dan adaptasi "diterjemahkan" secara menarik oleh perupa senior Totok Buchori, 61 tahun, melalui karyanya yang berjudul Smiling People. Dia mengangkat figur perempuan lugu sedang memainkan gendering, dan menambahkan teks di atas kanvas, seperti "People Power" serta "Justice for all".

Menurut Totok, lukisan itu merupakan simbol keramahan rakyat Indonesia yang sering dimanfaatkan para elite politik untuk kepentingannya sendiri. "Namun ingat, jika rakyat sudah marah, tidak ada yang bisa melawannya," perupa anggota Sanggar Bambu ini menjelaskan.

Totok rupanya sedang mengadopsi ide people power dari sejumlah negara lain, kemudian diadaptasi dengan konteks Indonesia. Menurut dia, gerakan perlawanan rakyat yang paling terkenal adalah Revolusi Prancis serta gerakan people power Filipina, yang terjadi beberapa dekade lalu.

Pameran ini memang untuk menghadirkan karya hasil proses mengadopsi dan mengadaptasi. "Aspek menarik dalam pameran ini adalah upaya seniman memaknai proses mengadaptasi dan mengadopsi. Ikon-ikon visual yang berangkat dari problem kebudayaan lokal bisa lebih jauh digali dan dikembangkan," tulis Kuss Indarto dalam kuratorial pameran.

HERU CN