Sholahudin Wahid. TEMPO/Arie Basuki
Topik
Inilah Profil Tujuh Kandidat Ketua Nahdlatul Ulama
TEMPO Interaktif, Jakarta - Dalam muktamar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang tengah berlangsung di Makassar saat ini, ada tujuh calon ketua yang tengah bersaing. Dari kaum muda hingga sepuh. Mereka adalah Ulil Abshar Abdallah, Shalahuddin Wahid, Said Aqil Siradj, Masdar F. Mas’udi, Ahmad Bagja, Slamet effendi Yusuf, dan Ali Maschan Moesa.
Kandidat termuda adalah Ulil, yang lahir di Pati, Jawa Tengah pada 11 Januari 1967. Ulil merupakan alumni pondok pesantren Mansajul ''Ulum, Pati dan Pondok Pesantren Al-Anwar, Rembang. Selama ini, sarjana Fakultas Syari''ah Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab Jakarta ini dikenal aktif dalam berbagai lembaga swadaya masyarakat seperti menjadi koordinator Jaringan Islam Liberal.
Selain itu, Ulil juga aktif di Institut Studi Arus Informasi, Direktur Program Indonesian Conference on Religion and Peace, penasihat ahli Harian Duta Masyarakat, dan Direktur Freedom Institute, Jakarta. Aktivitasnya di Nahdlatul Ulama adalah sebagai ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Maya Manusia.
Dalam pencalonanannya sebagai Ketua Nahdlatul Ulama, Ulil mengklaim didukung oleh keluarga Wahid, seperti KH Mustafa Bisri (Gus Mus) dan almarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Ia juga mengaku didukung oleh 90 suara pengurus cabang dan pengurus wilayah.
Kandidat berikutnya adalah Sholahuddin Wahid alias Gus Sholah. Salah satu cucu pendiri Nahdlatul Ulama KH Wahid Hasyim ini mengklaim telah mengantongi suara lebih dari separuh suara pengurus wilayah Nahdlatul Ulama seluruh Indonesia. Pria kelahiran Jombang 11 September 1942 ini juga mengaku didukung 145 pengurus cabang dan 175 kiai.
Gus Sholah adalah alumni Institut Teknologi Bandung. Berbagai pekerjaan telah dilakoninya antara lain sebagai Wakil Ketua Komnas HAM, Anggota MPR, penulis lepas, Assosiate Director Perusahaan Konsultan Properti Internasional, dan direktur perusahaan konsultan dan kontraktor.
Perjalanan kariernya rupanya didukung oleh pengalaman organisasinya sejak duduk di bangku sekolah. Misalnya sebagai pengurus OSIS, pengurus senat di kampus, pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Ikatan Konsultan Indonesia, Anggota Dewan Pembina Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, dan sebagainya. Sementara aktivitasnya di Nahdlatul Ulama adalah sebagai ketua PBNU pada 1999-2004. Gus Sholah juga merupakan pendiri dan Sekretaris Yayasan Wahid Hasyim.
Kadidat lainnya adalah Said Aqil. Gus Sholah menganggap Said Aqil merupakan salah satu pesaingnya yang cukup diperhitungkan dalam Muktamar kali ini. Said lahir di Cirebon pada 3 Juli 1953. Ia adalah alumni Universitas King Abdul Aziz dan menempuh pendidikan S2 dan S3 di Universitas Ummu al-Qura. Said pernah mondok di Pesantren Hidayatul Mubtadi’en Lirboyo Kediri.
Said yang pernah menjadi anggota MPR dari utusan Nahdlatul Ulama ini banyak terlibat dalam berbagai aktivitas antara lain penasehat Gerakan Anti Diskriminasi Indonesia, Wakil Ketua Tim Gabungan Pencari fakta Kerusuhan Mei 1998 dan kasus pembantaian dukun santet Banyuwangi.
Mantan aktivis PMII dan penasehat PMKRI ini mengklaim dukungan 50 persen lebih pengurus cabang dan pengurus wilayah Nahdlatul Ulama seluruh Indonesia. Said yang masih aktif sebagai dosen di sejumlah perguruan tinggi ini juga mengaku didukung para sesepuh Nahdlatul Ulama.
Kandidat lainnya adalah Masdar, yang merupakan alumni Pesantren Salaf Magelang dan Pesantren Krapyak, Yogyakarta dan berguru kepada Kyai Ali Maksoem, Rois Am PBNU tahun 1988-1999. Masdar lalu diangkat sebagai asisten Kyai Ali dan memperoleh kesempatan langka untuk memanfaatkan perpustakaan pribadinya yang berisi kitab-kitab pilihan baik yang salaf (klasik) maupun yang kholaf (modern).
Masdar adalah alumni IAIN Sunan Kalijaga dan memiliki berbagai pengalaman sebagai pembicara baik dalam maupun luar negeri. Ia juga pernah menjadi ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Yogyakarta dan aktif di senat mahasiswa. Sebagai aktivis mahasiswa, Masdar pernah ditahan oleh Penguasa Orde Baru bersama sembilan mahasiswa lainnya di markas Pomdam Jawa Tengah, Semarang selama lima bulan lebih.
Saat menjadi wartawan, Masdar mulai aktif di PBNU dan menjadi Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Ia juga menjadi Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat, anggota Dewan Etik Indonesian Corruption Wacth dan Komisi Ombudsman Nasional.
Kandidat lainnya yakni Ahmad Bagja, kiai kharismatik asal Jawa Barat yang sudah 25 tahun aktif sebagai pengurus di Nahdlatul Ulama. Selama 15 tahun di bawah kepemimpinan almarhum Gus Dur dan 10 tahun bersama KH Hasyim Muzadi. Bagja menegaskan, dirinya merasa harus siap merespons desakan banyak pihak yang meminta mantan Ketum PB PMII ini menjadi Ketua Umum PBNU.
Bagja mengaku memiliki konsep membangun Nhadlatul Ulama yang akan fokus pada peningkatan ekonomi umat, pengembangan pendidikan, dan layanan sosial dan dakwah. Bagi Gus Sholah, Bagja juga merupakan salah satu pesaing yang diperhitungkan.
Kandidat lainnya, terakhir adalah Slamet Effendy Yusuf yang lahir di Purwokerto, 12 Januari 1948. Ia adalah alumni S1 Fakultas Syarah IAIN Sunan Kalijaga dan S2 Pasca Sarjana Universitas Indonesia Bidang Politik.
Berbagai organisasi pernah digeluti Slamet antara lain Ketua Anak Cabang IPNU Kecamatan Ajibarang, Ketua Dewan Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga, ketua PMII Cabang Yogyakarta, Ketua Umum GP Ansor dua periode, pengurus Partai Golkar, anggota MPR dan DPR, dan sebagainya.
Kandidat terakhir yakni Ali Maschan Moesa yang lahir di Tulungagung, 1 Januari 1956. Ali pernah mondok di Pesantren Al-Hikmah Purwosari dan Pesantren Al-Ishlah Kediri. Alumni IAIN Sunan Ampel dan doktor dari Universitas Airlangga ini kini aktif sebagai dosen di IAIN Sunan Ampel. Pengalamannya di Nahdlatul Ulama adalah sebagai wakil ketua Nahdlatul Ulama Jawa Timur dan ketua PWNU Jawa Timur.
Pemilihan calon ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Makassar akan memperebutkan 555 suara pengurus cabang dan 33 pengurus wilayah. Sementara pengurus wilayah yang terdaftar ada 33 wilayah, 473 pengurus cabang, dan 14 pengurus cabang istimewa Nahdlatul Ulama di luar negeri.
HAYATI MAULANA NUR | BERBAGAI SUMBER






Web via