Waduk Jatiluhur di Purwakarta, Jawa Barat. TEMPO/Tommy Satria; Digital Image
Topik
Setelah Sempat Susut, Debit Waduk Jatiluhur Naik Lagi
TEMPO Interaktif, Purwakarta – Debit air Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, yang dalam dua hari terakhir terus menyusut, kembali mengalami kenaikan signifikan.
“Tinggi muka air, Kamis pagi, naik lagi jadi 108,41 meter di atas permukaan laut,” kata Atik, juru bicara PJT II Jatiluhur saat dihubungi Tempo, Kamis (25/3) pagi.
Padahal, sepanjang Rabu (24/3), debit air waduk serbaguna tersebut sudah berada di level 108,23 meter di bawah permukaan laut. Artinya, limpasan air yang masuk dari permukaan waduk melalui menara morning glory dan terjun melalui turbin yang pembangkit listrik lalu menggelontor ke Sungai Citarum naik 18 centimeteran.
Seperti diketahui, batas maksimal tinggi muka air waduk sebelum bisa menyentuh jendela-jendela menara morning glory adalah di level 107 meter di bawah permukaan laut.
Pemantik naiknya debit air waduk yang dioperasikan sejak 26 Agustus 1967 tersebut, kata Atik, akibat hujan yang turun deras di sekitar wilayah Jawa Barat selatan dan Purwakarta, sepanjang Rabu. “Ya otomatis, volume air waduk pun kembali naik,” tutur Atik.
Ia belum bisa memberikan data secara rinci ihwal seberapa banyak volume air yang masuk dan keluar waduk. “Angkanya masih kami terima, mungkin nanti siangan” kata Atik.
Sepanjang Rabu, air yang masuk dari hulu Citarum dan Cisomang ke Waduk Jatiluhur tercatat 641,66 meter kubik per detik dan digelontorkan keluar waduk melalui Sungai Citarum sebanyak 671,12 meter kubik per detik.
Kondisi tersebut seolah membuat upaya normalisasi debit air waduk yang dilakukan pengelola waduk sia-sia. Meluapnya Waduk Jatiluhur dalam satu pekan terakhir ini mencemaskan warga Desa Cikao Bandung yang tinggal di sekitar tubir waduk dan warga yang tinggal di sepanjang hilir bantaran Citarum, terutama yang tinggal di Kabupaten Karawang.
Akibat meluapnya air Citarum ditambah gelontoran pembuangan air dari Waduk Jatiluhur, membuat 500-an rumah warga Desa Cikao Bandung, terendam banjir mulai dari satu hingga tiga meteran. Termasuk warga delapan kecamatan di wilayah Kabupaten Karawang.
Mereka bahkan sempat panik karena terus didera isu bahwa tanggul waduk akan segera jebol. Tapi, akhirnya isu tersebut dibantah Supangat, seorang tenaga akhli dari PJT II Jatiluhur. Ia mengatakan kondisi waduk masih kokoh. “Usianya masih 300 tahunan lagi,” tegas Supangat.
NANANG SUTISNA





