TEMPO/Wahyu Setiawan
Topik
ProFauna Gandeng Slank Kampanye Pelestarian Burung
TEMPO Interaktif, Malang - Organisasi Perlindungan dan Pelestarian Satwa Liar, ProFauna Indonesia, menggandeng kelompok musik Slank untuk mengkampanyekan pelestarian burung di Maluku Utara. ProFauna mengajak Slank karena grup band tersebut mempunyai kepedulian terhadap pelestarian satwa liar di Indonesia. "Komitmen Slank pada perlindungan dan pelestarian satwa liar selama ini sudah tak diragukan lagi," kata Ketua ProFauna Indonesia, Rosek Nursahid, di Malang, Ahad (28/3).
Dalam kampanye tersebut, Slank hadir dalam peluncuran film pendek konservasi burung yang berjudul Suara Masyarakat Maluku Utara, di Sofifi Maluku Utara, Kamis (25/3) lalu. Kehadiran Slank, ujar Rosek, berhasil mendorong kepedulian masyarakat untuk tidak menangkap burung dan memperdagangkannya. "Masyarakat berikrar lebih menjaga kelestarian burung di Maluku."
Rosek menambahkan, kampanye pelestarian burung perlu digalakkan di Maluku Utara karena penangkapan burung sangat merugikan masyarakat di sana Selama ini, penangkapan dan perdagangan burung, seperti nuri dan kakatua, hanya menguntungkan pedagang besar , sementara masyarakat lokal tidak terlalu diuntungkan. "Jika burung tetap lestari di alam akan bisa menjadi obyek wisata alam yang lebih menguntungkan secara ekonomi bagi masyarakat lokal dan pemerintah daerah," kata Rosek.
Menurut Manajer Kampanye ProFauna, Tri Prayudhi, kampanye ProFauna di Maluku Utara yang sudah dilakukan lebih dari lima tahun berhasil mengajak pemerintah daerah setempat lebih peduli terhadap pelestarian burung. Hal itu bisa dibuktikan dengan rencana Pemerintah Provinsi Maluku Utara yang akan mengeluarkan pemerintah daerah yang melarang penangkapan semua jenis burung dari alam untuk kepentingan komersil.
Pada tahun 2008, ProFauna pernah meluncurkan laporan investigasi berjudul
Pirated Parrot. Dalam laporan tersebut, ProFauna mencatat ada sekitar 10 ribu ekor burung setiap tahun yang ditangkap dari alam Maluku Utara untuk diperdagangkan. Sebagian besar burung-burung tersebut diselundupkan ke Jawa dan Philipina.
BIBIN BINTARIADI





