Pekerja mendistribusikan pupuk urea Pusri bersubsidi di Purwokerto,Jawa Tengah, (02/2). Permintaan pupuk menurun, permintaan meningkat tajam pada bulan Maret-April saat petani memulai masa tanam kedua. TEMPO/Budi Purwanto
Topik
Petani Diimbau Tak Cemaskan Harga Pupuk
TEMPO Interaktif, Jakarta - Para petani yang menggunakan pupuk bersubsidi diimbau untuk tidak perlu khawatir pada musim tanam kali ini. Sebab harga pupuk subsidi belum dinaikkan, tapi masih dalam pembahasan. Sebelumnya pemerintah berencana menaikkan harga pupuk bersupsidi per 1 April 2010.
“Harga pupuk bersubsidi dari pemerintah untuk petani belum dinaikkan, rencana memang ada tetapi saya yakin masih lama keputusannya,” kata Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Selasa (30/3).
Harga pupuk urea bersubsidi dari pemerintah saat ini masih tetap Rp 1.200 per kilogram atau Rp 60 per sak. Kebutuhan pupuk urea di Bantul mencapai 16 ribu ton pada 2010 ini. Kebutuhan subsidi pupuk urea untuk petani di Bantul mencapai Rp 100 miliar per tahun.
Jika subsidi tahun ini diberikan kepada produsen pupuk, namun pada 2011 subsidi akan diberikan langsung kepada petani melalu Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). “Bantul pada 2011 menjadi pilot project penyaluran subsidi pupuk lagsung ke Gapoktan. Kami menyiapkan perencanaan agar petani bisa bergabung ke Gapoktan,” tutur dia.
Saat ini, kata dia, masih banyak petani di Bantul yang belum masuk ke Gapoktan. Sehinga diharapkan para penani segera untuk mendaftarkan diri ke Gapoktan. Hal itu diperlukan untuk pengisian data dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).
Di Bantul terdapat 930 Gapoktan. Satu kelompok rata-rata beranggotakan 40 hingga 50 petani. Subsidi pemerintah kepada petani melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara lumayan tinggi. Harga pupuk bersubsidi per kilogram Rp 1.200. Jika tidak disubsidi harga sebenarnya Rp 4.600 per kilogram.
Edy menambahkan, jika memang harga pupuk bersubsidi dinaikkan, maka petani diharapkan untuk menggunakan pupuk selain urea. Sebab beberapa tempat di Bantul sudah memproduksi pupuk organik.
Menurut Ibnu Syafar, supervisor pengadaan dan penjualan Pupuk Sriwijaya Yogyakarta, kebutuhan pupuk urea di Yogyakarta selama 2010 sebesar 80 ribu ton. Kebutuhan tersebut berdasarkan surat keputusan yang Gubernur DI Yogyakarta. “Setiap tahun Gubernur membuat surat keputusan tentang kebutuhan pupuk, kami tinggal memenuhi kebutuhan tersebut,” kata dia.
Lasio Syaefuddin, petani di Bambanglipuro, Bantul, menyatakan tidak khawatir terhadap rencana kenaikan harga pupuk bersupsidi. Sebab selama ini ia memakai pupuk organik untuk mengolah sawah. “Itu supaya para petani kembali menggunakan pupuk organik. Selain harganya lebih murah, hasilnya lebih bagus,” katanya.
MUH SYAIFULAH





