Harga Gabah Anjlok, Petani Tadah Hujan Mengeluh

TEMPO Interaktif, Jakarta -Para petani di wilayah pertanian tadah hujan di Kabupaten Subang, Jawa Barat, mengeluhkan terus merosotnya harga jual gabah hasil panen mereka, yang sudah berada di bawah harga patokan pemerintah.

Sejauh ini, mereka juga mengaku belum ada upaya intervensi dari pihak Bulog (Badan Urusan Logistik) untuk mengamankan harga gabah yang terus anjlok itu.

Judin, salah seorang petani di Desa Cihambulu, Kecamatan Pabuaran, misalnya, mengaku harga gabah kering pungut oleh tengkulak yang turun ke sawah-sawah membeli hasil panen petani dengan harga Rp.2.400 per kilo gram atau Rp.240 ribu per kuintal. “Baginilah nasib petani sawah tadah hujan, setiap panen pasti kebagian harga murah,” kata Judin.

Dari pada harga terus merosot ke level lebih rendah, Judin dan rekannya Dayat terpaksa melego gabah kering pungutnya meski dihargai lebih rendah dari harga patokan pemerintah. “Supaya tidak terlalu rugi,” kata Dayat. “Lagipula kami butuh modal untuk biaya musim tanam kedua.”

Kepala Desa Cihambulu, Hasan Abdul Munir meminta pihak Sub Bulog Divisi Regional IV Subang, segera turun tangan untuk menstabilkan harga jual gabah milik para petani di desanya yang terus merosot tersebut.

Padahal, kualitas gabah kering pungut petani desanya tak kalah bagus dengan produksi sawah irigasi teknis. “Ya kami minta supaya Bulog membeli sesuai HPP Rp.2.685 per kilo gramnya,” kata Hasan. “Supaya petani tidak rugi.”

Pemantauan Tempo, Jumat (2/4), mengisyaratkan, lokasi-lokasi panen yang sudah tampak mulai ramai berada di areal perswahan tadah huja di Desa Cihambulu, Balebandung Jaya, Siluman, Kadawung, Karangmukti, Cipeundeuy, Sawangan, Kosar, Siluman dan Tanjungrasa Kaler dan Pabuaran. Para tengkulak yang berdatangan dari luar daerah itu, rata-rata mematok harga beli Rp.2.400 per kilo gram.

Kepala Sub Bulog Divisi Regional IV Subang, Opa Mustofa berjanji akan melakukan upaya intervensi untuk menyelamatkan petani dari permainan harga yang dilakukan para tengkulak. “Kami akan segera, menginstruksikan para rekannya datang ke lokasi panen sawah tadah hujan itu,” kata Opa.

Ia mengatakan, harga beli gabah kering pungut dengan HPP 2.685 per kilo gram, diperuntukan buat gabah dengan kadar air maksimal 25 persen dan kada hampanya hanya mencapai 10 persen.

Ia menduga gabah hasil panen di sawah-sawah tadah hujan kualitasnya lebih rendah dari aturan HPP. “Karena terus kehujanan, maka kadar airnya akan tinggi,” kata Opa.

NANANG SUTISNA