foto

Waduk Jatiluhur. TEMPO/Budiyanto

Debit Air Waduk Jatiluhur Terus Menyusut  

TEMPO Interaktif, Purwakarta - Pelan tapi pasti, debit air waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, terus mengalami penyusutan. Jumat (9/4), tinggi muka air waduk serbaguna tersebut berada di level 107,45 meter di atas permukaan laut. "Turun satu sentimeter dibanding Kamis (8/4)," kata juru bicara Perum Jasa Tirta II Jatiluhur, Atik Wahidi, saat dihubungi Tempo, Jumat (7/4).

Meski terus mengalami penyusutan, tinggi muka air waduk yang mulai dioperasikan pada 26 Agustus 1967 tersebut, masih tetap belum memenuhi batas aman yakni di level 107 meter di atas permukaan laut. "Masih dibutuhkan cukup lama untuk sampai pada titik normal itu," kata Atik.

Ia mengaku tak yakin, debit air waduk yang berfungsi mengairi 240 ribu hektare areal persawahan di wilayah Jakarta, Bekasi, Karawang, Subang dan sebagian Indramayu itu, akan kembali normal dalam waktu satu bulan ke depan. "Rasanya nggak yakin," kata Atik. Sebab, faktanya menunjukan air paling banter rata-rata per harinya susut satu centimeter saja. "Kalau curah hujan di wilayah Jawa Barat selatan kecil, ya mungkin normalisasi bisa berjalan lebih cepat," tutur Atik.

Air dari hulu sungai Citarum yang masuk ke waduk yang diberi nama waduk Ir.H.Djuanda dengan kapasitas daya tampung 3,5 miliar meter kubik tersebut, kata Atik, sampai Jumat siang masih terhitung cukup tinggi. "Masih 256,44 meter kubik per detik," kata Atik. Sedangkan, air yang melimpas dari waduk kemudian digelontorkan ke arah sungai Citarum yang berada di hilir waduk mencapai 250,74 meter kubik per detik.

Kusnendar, salah seorang penduduk Curug, Kecamatan Klari, mengatakan, kondisi air di bendung Curug yang berfungsi membagi gelontoran air ke Citarum, irigasi induk Tarum Barat dan Tarum Timur, masih tampak meluap meski tidak sehebat sewaktu terjadinya bencana banjir di Karawang. "Tapi, memang Belum normal," kata Kusnendar.

NANANG SUTISNA