indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Inilah Alasan Film Gigolo Pantai Kuta Itu Dibuat

Inilah Alasan Film Gigolo Pantai Kuta Itu Dibuat

Cowboys Paradise

TEMPO Interaktif, Jakarta - Film dokumentar "Cowboys In Paradise" yang bercerita tentang dunia gigolo di Bali mulai menggegerkan dunia maya. Bahkan gara-gara tayangan yang berdurasi dua menit 33 detik itu, Senin (26/4), Satgas Pantai Kuta melakukan razia terhadap pengunjung di pantai itu. Sekitar 28 pemuda ditangkap dalam razia ini.

Namun, tahukah Anda apa alasan sutradara film dokumenter ini, Amit Virmani, seorang pria keturunan India mendokumentasikan kehidupan gigolo itu?

Berdasarkan situs film ini, ada alasan tertentu yang melatari Virmani membuat film ini. Pembuatan film ini, bermula ketika dirinya bertemu dengan seorang bocah berusia 12 tahun di pantai itu. Si bocah mendesaknya untuk mengajarinya bahasa Jepang. “Ketika saya dewasa, saya ingin menjadi gigolo bagi perempuan Jepang. Bocah itu menjawab dengan riang gembira,” cerita Amit seperti dilansir dalam situs cowboysinparadise.

Jawaban bocah itu rupanya mengganggunya. Ia gelisah akan masa depan bocah itu. “Mengapa bocah laki-laki ini begitu berhasrat untuk terlibat perdagangan kotor itu. Mengapa ia merasa bangga?” ujarnya dalam situs itu. Bagi sang sineas, surga adalah sebuah kata yang dipandangnya dengan curiga. “Apa surga ketika itu hanya menawarkan anak-anak dengan mimpi yang terbatas tentang masa depan,” kisahnya.

Dari kegelisahan itu, Virmani lantas merasa terpanggil untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. “Karena itulah saya membuat film ini,” katanya.

Hingga hari ini, film yang beredar bebas tersebut terus menuai kritik masyarakat Bali. Sebab, film ini dinilai tak menyampaikan fakta sebenarnya di lapangan meski fenomena gigolo memang diakui ada di Kuta. Heboh film ini juga membuat pihak satuan tugas Pantai Kuta meradang. Walhasil, razia rutin terhadap gigolo pun digelar, terutama ditujukan kepada gigolo yang merugikan turis dan merusak citra pariwisata Bali.

AGUSLIA HIDAYAH | cowboysinparadise.com

Komentar (53)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
sebenernya kamu harus nsama aq aja itu-ittuanya
1
0
Sebagai orang yg pernah hidup di tempat yg sama selama 3 tahun. Saya mengamini apa yg ada di Film tersebut. Perkara 6160Lo tidak hanya di Kuta tapi di Jakarta jumlahnya lebih banyak, bahkan Bandung pun ada. Jadi terserah masing2 pribadi........ Apa harus bikin perda tentang ini??? Atau di KTP ditulis-- pekerjaan: GIGOLO, begitu??? Saya juga bisa kok bikin film dokumenter: Nenek2 dan anak2 jadi pelacur di Jakarta, Surabaya, atau kota besar mana saja. Percaya???
0
0
Ya gitu dechhhh , orang yang seklalu ribut mengengurusss yang gak bermutu,,, ya kalo memang tidak ada fakta gak mungkin orang bikin, kalo menurut gue kenapa gak bikin flm yang tentang pariwisata dan menonjolkan budaya yang menarik, bukan bikin flm yang menuju dengan tujuan mesum, toh masih banyak yang bisa dilakukan menojolkan tentang pariwisata ..... Flm gigolo gak penting tuhhhhh gak mutu la yawww
0
0
Habisin aja produsernya mumpung orang India supaya angkat kaki dari negri Republik Indonesia. Yes No ghedeg yaitu orang bawang...susah deh gecek aja.
0
0
Dasar org Indo bego mau aja dipecah belah ama Indihe s\'pore...ngga tau pada maksudnya dia bikin film itu utk apa..utk ngancurin pariwisata bali, yg ujung2nya bikin kalian ribut semua..dasar geblek sok suci...gigolo, sex, pleacuran, dimana2 jg ada...di aceh yg katanya serambi mekah aja ada koq...loe2nya aj yg pd kagak tau, sok suci semua...
Selanjutnya
Wajib Baca!
X