Sultan Beri Sinyal Pembayun Penerus Tahta

Sultan Beri Sinyal Pembayun Penerus Tahta

Sri Sultan Hamengkubuwono X. TEMPO/Wahyu Setiawan

TEMPO Interaktif, Yogyakarta – Sri Sultan Hamengku Buwono X memberi sinyalemen, bahwa tidak menutup kemungkinan pengganti dirinya kelak sebagai raja adalah perempuan. Meski tidak secara eksplisit dikemukakan, namun Sultan mengakui bahwa jika dibandingkan dengan istrinya, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, maka putri sulungnya Gusti Kanjeng Ratu Pembayun mempunyai peluang lebih.

“Kalau GKR Hemas kan, orang lain. Kalau GKR Pembayun kan anak langsung dari raja,” kata Sultan kepada wartawan di Kepatihan, Jumat (14/5).

Di sisi lain, Sultan mengingatkan, bahwa kraton mempunyai paugeran atau aturan sendiri. Bahwa paugeran kraton selamanya adalah yang menjadi raja biasanya laki-laki. Hanya saja, lanjut Sultan, sebagai raja dia tidak boleh membedakan peran laki-laki dengan perempuan. “Siapa raja yang berkuasa, dia berhak melakukan perubahan,” tegas Sultan.

Meski demikian, Sultan menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat Yogyakarta terkait siapa yang kelak menjadi raja di Kraton Yogyakarta untuk menggantikan dirinya. “Terserah aspirasi rakyat, siapa sultan nanti,” imbuh Sultan.

PITO AGUSTIN RUDIANA

Komentar (2)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
Ada 2 sisi mata uang, Sultan sebagai Raja dan Sultan sebagai Bapak/Orang Tua. Bila Sultan sebagai Raja, maka jauh sebelumnya (calon Sultan) telah menjalani \"fit and property test\" dan lulus, artinya siap untuk dinobatkan menjadi Sultan yang memegang teguh janji terhadap amanah yang telah diberikan dan siap untuk menjalankannya sesuai dengan peraturan (paugeran) yang berlaku. Bila kita melihat sisi manusianya, beliau adalah seorang Bapak, sangat wajar dan manusiawi bila hatinya risau atau gundah, memikirkan kelanjutan masa depan keluarganya, untuk itulah didalam gelar Sultan, terdapat kalimat \"Senopati Ing Ngalogo\" atau panglima perang, tak hanya perang duniawi tetapi juga panglima dalam perang bathin untuk memilih sesuai hati nuraninya selaku Sultan.
11
0
-siapapun kelak yang akan dicalonkan & terpilih- Disebut istimewa tentu mempunyai KELEBIHAN dibanding yang lainnya. Bukan semata judul. Ibarat sebuah menu. Yang satu ini istimewa dibanding sejenisnya. Keberanian menyebut istimewa tentu bukan tanpa asal usul, tetapi juga mengandung konsekwensi tinggi. Artinya bukan hanya saat \"PROMO\" saja disebut istimewa. Selanjutnya biasa-biasa saja. Bahkan selanjutnya nyaris tidak ada kelebihannya dibanding lainnya.. Monarki dilestarikan sah-sah saja sebagai bagian dari budaya dan sejarah. Tata Kepemerintahan sama dengan daerah-daerah lainnya. Mengapa.. Jika ada pihak lainnya mengajukan calon dan memenangkan Pemilu akan tetapi ia bukan keturunan raja...?! Dilarang Atau sang Raja wafat, LANTAS..?! Akan halnya di Inggris. Monarki tetap ada. PM menjalankan kepemerintahannya sesuai aturan yang berlaku. Monarki tidak dapat mencampuri Tata Kepemerintahan & Kebijakan Pemerintah. Soal gesek-gesekan antara Pemerintah dengan Kerajaan wajar, biasa. Tetapi TIDAK mengganggu kepemerintahan apalagi mencampuri Rakyat tetap mengagumi siapapun sepanjang mereka itu memang amat PATUT DIKAGUMI...
Wajib Baca!
X