Buruh Pabrik Pupuk Demo karena Tak Diberi Libur

TEMPO Interaktif, Purwokerto - Puluhan buruh pabrik PT. Petroganik berunjuk rasa menuntut jaminan kesehatan dan diberikannya hari libur yang selama ini tidak dipenuhi perusahaan. Pabrik yang mengolah pupuk organik dari kotoran sapi tersebut bahkan tidak mengikutsertakan buruhnya dalam program Jaminan Sosial Tenaga Kerja.

“Kami menuntut perusahaan untuk memberikan fasilitas cek kesehatan bagi karyawan,” terang Titut Edi Purwanto, juru bicara buruh, Kamis (20/5).

Titut mengatakan selama bekerja mereka harus menghirup amoniak dan debu dari kotoran sapi. Setiap harinya, rata-rata mereka bekerja selama 12 jam. Menurut Titut, selama bekerja di pabrik tersebut, perusahaan tidak pernah mendengarkan tuntutan buruh untuk memfasilitasi pemeriksaan kesehatan.

Selain itu, fasilitas kerja seperti masker dan sepatu boot juga tidak pernah diberikan. Kondisi gedung yang hampir roboh juga menjadi penyebab mereka bekerja tak tenang. “Selama ini kami juga tak diberi waktu untuk libur, seminggu full bekerja,” katanya.

Titut mengatakan selama ini perusahaan selalu mengancam akan memecat buruhnya yang ingin minta klarifikasi kepada perusahaan. Padahal, kata Titut, apa yang diminta buruh merupakan kewajiban yang harus dipenuhi perusahaan.

Manajer Produksi Petroganik, Saefudin, saat dikonfirmasi membantah apa yang dituduhkan buruhnya. “Asal mereka bawa kuitansi yang sah dari rumah sakit, pasti kita berikan,” katanya.

Saefudin mengatakan, terkait tuntutan buruh agar dimasukan dalam program Jamsostek, ia masih harus berkonsultasi dulu dengan pemilik perusahaan. “Nanti akan kami sampaikan,” katanya.

Pemilik perusahaan tersebut, Ali Bassalamah, enggan berkomentar banyak terkait demo buruhnya. “Semua kan bisa dibicarakan, nanti akan saya lihat,” katanya.

Ali Bassalamah merupakan Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Banyumas. Komisi ini membidani masalah ketenagakerjaan, kesejahteraan rakyat dan pendidikan. “Beliau ketua komisi yang membidangi ketenagakerjaan, masa nda tau kewajibannya sebagai pengusaha,” imbuh Titut.

Pabrik yang didirikan tujuh bulan lalu itu, sebulannya mampu menghasilkan 400 ton pupuk organik. Belakangan, seiring naiknya harga pupuk, permintaan pupuk organic meningkat menjadi 600 ton per bulan.

ARIS ANDRIANTO