TEMPO/Subekti
Topik
Infografis
Investor Disarankan Banting Setir ke Rupiah
TEMPO Interaktif, Jakarta - Investor disarankan mengalihkan investasinya ke dalam rupiah. Para pemilik euro, misalnya, diharapkan segera menjual mata uang tunggal Eropa itu sedikit demi sedikit. "Jual euro, dan beralih ke rupiah," kata ekonom Standard Chartered, Fauzi Ichsan, di Jakarta, akhir pekan lalu.
Meski diperkirakan bakal merugi, namun kerugian tersebut dapat ditutup dengan mengalihkan investasi pada Surat Utang Negara (SUN) dan membeli rupiah yang nilainya relatif lebih stabil. SUN diperkirakan dapat memberikan imbal balik 8 persen dan rupiah 5 persen.
"Bisa juga dialihkan untuk membeli mata uang yang solid dalam jangka panjang," kata Fauzi. Mata uang yang solid diperkirakan berasal dari negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, seperti India dan Cina, termasuk negara produsen komoditas, seperti Kanada dan Australia.
Anjloknya rupiah sepanjang pekan ini dinilai merupakan fenomena sementara saat pasar masih dalam kondisi panik akibat krisis mata uang euro. "Mata uang Asia masih akan kuat karena didukung fundamental yang kuat," ujar Fauzi.
Dolar Amerika Serikat masih akan menguat beberapa pekan ke depan. Namun dia tak yakin dolar terus-menerus menguat. Sebab perekonomian Negeri Abang Sam belum cukup tangguh. Fauzi memperkirakan, dalam semester II-2010 rupiah dapat mempertahankan nilai rata-ratanya pada tingkat 9.200 per dolar Amerika.
Dampak krisis yang menerpa Eropa diperkirakan tidak akan menganggu ekonomi dunia. Meski demikian, krisis ini tetap menjadi penyumbang risiko terbesar dalam investasi. "Meskipun risikonya tidak sebesar krisis 2008," kata dia.
Pertumbuhan ekonomi Eropa diprediksi tetap positif karena krisis hanya dirasakan oleh negara-negara di kawasan Eropa Selatan, terutama Yunani, Potugal, dan Irlandia. Negara di daerah Eropa Utara tetap menunjukkan pertumbuhan ekonomi.
Negara Eropa Utara justru berperan penting sebagai penopang krisis dengan memberikan dana talangan yang berasal dari penjualan obligasi. "Euro yang terus melemah tidak akan dibiarkan karena risiko politiknya terlalu besar," ujar dia.
Kepala Riset BNI Sekuritas Norico Gaman menilai pemberian dana talangan oleh Jerman dan Dana Moneter Internasional memberikan arah positif bagi investor. Jerman merupakan negara dengan ekonomi terbaik di Eropa. "Investor mulai punya keyakinan bahwa Eropa akan membaik," katanya.
FAMEGA SYAVIRA