Puluhan mahasiswa memperingati Hari Aids Internasional di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (29/11). Setiap hari terdapat 7.400 kasus baru HIV atau 5 orang per menit dan 96% di antaranya merupakan populasi di negara berkembang. TEMPO/Subekti
Topik
Jangan Larang Gay Donor Darah
TEMPO Interaktif, Kanada - Sejak tahun 1983, Palang Merah Kanada mengharamkan donor darah dari para gay karena berpotensi terinfeksi virus HIV/AIDS. Sementara Amerika Serikat memberlakukan pelarangan ini sejak 1977.
Dr. Mark Wainberg dari University AIDS Centre mengatakan ini saatnya untuk mengubah kebijakan pelarangan donor darah bagi para pria yang memiliki kelainan seksual atau gay. "Perkembangan teknologi dan metode pengujian darah yang efektif akan mampu mendeteksi apakah darah yang didonorkan positif HIV atau tidak," katanya seperti dikutip dari ScienceDaily.
Otoritas yang mengurus tentang darah di Kanada, Amerika Serikat dan Inggris menolak donor darah dari para gay karena khawatir terinfeksi virus HIV. Penularan virus itu, salah satunya, bisa melalui transfusi darah.
Menurut Wainberg, untuk menghindari penerimaan darah yang telah terinfensi virus HIV, para pendonor, khususnya para gay mengisi kuesioner terlebih dahulu. Dalam kuesioner itu, mereka diminta menjawab pertanyaan seputar catatan medis, penggunaan obat-obatan terlarang atau berganti-ganti pasangan sejenis. Mereka juga diminta mengikuti tes darah terlebih dahulu sebelum mendonorkan darahnya.
Wainberg mengatakan, para gay yang darahnya negatif HIV dan sudah tidak lagi berhubungan dengan pasangan sejenis dalam waktu satu tahun dapat mendonorkan darahnya. Dia mencontohkan beberapa negara yang telah menerapkan penangguhan donor darah bagi para gay, yakni satu tahun di Argentina, Australia, Jepang, Hungaria dan Swedia; lima tahun di Afrika Selatan dan sepuluh tahun di Selandia Baru.
Rini K | ScienceDaily





