TEMPO/Dinul Mubarok
Infografis
Seabrek PR untuk Darmin Nasution
TEMPO Interaktif, Jakarta - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Aviliani, menyambut baik pemilihan Darmin Nasution untuk menduduki kursi Gubernur Bank Indonesia. Ia menilai kapasitas Darmin cukup kredibel untuk mengurus perbaikan di bank sentral tersebut. "Pak Darmin orang yang tepat dengan reputasi dan kapasitasnya," ujarnya.
Persoalan yang harus dikerjakan oleh Darmin dalam waktu singkat ini adalah berkoordinasi dengan Menteri Keuangan dalam melakukan pencegahan krisis. "Gubernur BI dan Menteri Keuangan harus segera berkoordinasi untuk mengantisipasi dan memetakan kira-kira bank mana saja yang berpotensi seperti Century," katanya saat ditemui Tempo.
Ia menambahkan, langkah tersebut penting untuk mengantisipasi tekanan politik jika sewaktu-waktu harus mengambil tindakan untuk mengucurkan dana talangan (bailout) seperti yang pernah terjadi pada kasus kasus Bank Century. "Supaya kalau harus diambil tindakan bailout itu jelas kriteria bank nya seperti apa," ujar Aviliani.
Selain itu, masalah lain yang perlu diselesaikan adalah melakukan upaya reformasi terhadap Arsitektur Perbankan Indonesia. "API yang ada saat ini tidak cukup baik untuk mendorong pergerakan sektor riil," katanya. Menurut dia, seharusnya API mengatur agar perbankan fokus pada sektor riil yang akhirnya dapat meningkatkan perekonomian Indonesia.
"Selama ini bank sulit dijangkau oleh pengusaha karena tidak ada bank yang fokus untuk permodalan usaha," tandasnya. Lebih lanjut, ia menambahkan, "Persoalannya selama ini karena banyak pengusaha yang mau mengambil kredit tapi equity nya tidak mencukupi persyaratan yang ditentukan, oleh karena itu API harus diubah," ujarnya.
Pendapat senada juga dikemukan Wijayanto, Kepala Program Studi Institut Kebijakan Publik Universitas Paramadina. Ia menyatakan peran perbankan dalam menggerakkan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah harus ditingkatkan. "Kalau kita melihat Cina, kekuatan terbesar mereka adalah pada usaha kecil dan menengah," ujarnya.
Usaha kecil di Cina menjadi kekuatan ekonomi besar lantaran dapat mengakses modal dan pasar. "Perbankan mereka sangat mendukung perkembangan UKM, tidak seperti di Indonesia," tutur dia. Ia mengusulkan pemerintah untuk menunjuk bank yang secara khusus mengurusi permodalan UKM. "Seperti BRI, harusnya dikembalikan ke fungsi aslinya. Kini BRI lebih banyak bermain di level korporasi," tuturnya.
FEBRIYAN





