Mantan pimpinan tertinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Hasan Muhammad Di Tiro (Hasan Tiro). ANTARA/Irwansyah Putra
Topik
Infografis
Gayus: Hasan Tiro Layak Disebut Pejuang
TEMPO Interaktif, Jakarta - Ketua Badan Kehormatan DPR, Gayus Lumbuun menyatakan, Hasan Tiro sebaiknya dianggap sebagai pejuang. Meski banyak pro-kontra, kita harus hargai orang-orang yang dengan ideologi memperjuangkan wilayahnya. Orang seperti Hasan perlu dihargai perjuangannya oleh seluruh rakyat.
"Kalau perlu jadikan ia sebagai pejuang yang memperjuangkan daerahnya," kata Gayus di gedung DPR, Kamis (3/6). Gayus menyayangkan, diakhir hayatnya, status kewarganegaraan pendiri dan mantan pemimpin Gerakan Aceh Merdeka itu belum jelas.
Padahal, kemarin (2/6), satu hari setelah peringatan hari lahir Pancasila. Hasan kembali mendapatkan status WNI-nya setelah proses selama satu tahun. Gayus mengatakan turut berduka cita atas meninggalnya pendiri dan mantan pemimpin Gerakan Aceh Merdeka itu.
Hasan Tiro menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Kamis (3/6) pukul 12:15 WIB, karena menderita infeksi paru-paru dan jantung. Hasan Tiro mendapat perawatan intensif dengan pernafasan bantuan sejak 12 hari di rumah sakit milik Pemerintah Aceh tersebut.
Lelaki kelahiran Pidie, Provinsi Aceh, 25 September 1925 ini sempat mengasingkan diri di Stockholm, Swedia sejak 1976. Ia kembali ke Aceh setelah penandatanganan kesepakatan damai RI-GAM di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005.
Tgk Hasan Tiro sempat pulang pada Oktober 2008. Namun, sejak akhir Oktober 2009, tinggal di rumah kontrakan di kawasan Lamteumen Timur, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh.
ARYANI KRISTANTI





