Puluhan massa menggelar aksi menuntut PLN Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) (3/6). TEMPO/ Supriyanto Khafid
Topik
Masyarakat Demo PLN NTB
TEMPO Interaktif, Mataram - Puluhan aktivis buruh, tani, dan nelayan menggunakan 10 unit angkutan kota, Kamis (3/6) pagi, mendemo PLN Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Peserta aksi juga mengajak warga kota Mataram melakukan boikot membayar listrik
Mereka membawa dua unit komputer, satu unit monitor dan satu unit DVD yang rusak yang diletakkan di depan pintu masuk sebelah timur kantor tersebut. Selain itu, mereka juga melemparkan poster-poster ke dalam halaman kantor tersebut yang sudah dijaga aparat polisi.
Kedatangan mereka menggugat kepemimpinan pejabat PLN NTB yang tidak menepati waktu penghentian pemadaman bergilir hingga akhir Mei kemarin.
Menurut Ketua Divisi Advokasi Federasi Serikat Nelayan Tani Buruh Indonesia Edy Irwanto, sebelumnya, ketika didatangi Direktur Utama PLN Dahlan Iskan, pejabat PLN setempat berani menjanjikan penghentian pemadaman bergilir sebulan mendahului jadwal nasional akhir Juni. "Kalau tidak mampu silakan mundur. Jangan ngomong manis kepada atasan, buktikan," kata Edy.
Ia memprotes pejabat PLN NTB yang tidak mau muncul dan mempertanyakan polisi yang tidak mau mengusut dugaan ketidakberesan pengelolan listrik di NTB. "Mana tindakan polisi kepada pejabat. Kalau kepada kepada orang kecil main tangkap," ujarnya.
Menjelang berakhirnya aksi, Manajer Bidang Niaga dan Pelayanan Pelanggan Kantor Wilayah PLN Nusa Tenggara Barat Anggoro Tjiptoharto dikawal polisi keluar menemui pendemo di pinggir jalan. Naik di atas mobil orasi pendemo, ia meminta maaf karena belum teratasinya penghentian pemadaman bergilir. "Kami terus berupaya mengatasinya," ucapnya.
Sampai hari ini PLN NTB masih memberlakukan pemadaman bergilir setiap dua hari sekali. Sehari menyala dan sehari padam mulai pukul 18.00 hingga pukul 01.00 dini hari.
Pemadaman tersebut akibat kekurangan daya listrik hingga 40 megawatt pada beban puncak malam hari. Dari ketersediaan mesin yang memiliki daya 110 megawatt (MW), ternyata hanya menghasilkan 70 MW.
Adapun upaya mengatasi ketersediaan daya yang semula dijadwalkan selesai akhir Mei 2010 ini molor hingga akhir Juni 2010. Mesin yang disewa berdaya 45 MW senilai Rp 500 miliar baru mulai masuk ke Lombok secara bertahap awal bulan Juni sebesar 10 MW, pertengahan Juni 10 MW dan sebelum 25 Juni 10 MW, pada 25 Juni juga 10 MW serta akhir Juni nanti lima MW.
"Mesin yang disewa itu ada yang didatangkan dari Singapura," ujar Manajer Teknik PLN Wilayah NTB Akbar Ali kepada Tempo.
Sebelumnya, akibat pemadaman bergilir yang berkepanjangan, telah menimbulkan amarah masyarakat utamanya dI Kabupaten Lombok Timur. Berulang kali kantor pembangkit listrik tenaga disel PLN di Paokmotong Lombok Timur diserang dan bahkan mobilnya dibakar. "Ini saat yang kritis. Tolong bersabar dulu. Kondisi begini, beri waktu," kata Akbar Ali.
SUPRIYANTHO KHAFID






Web via