Sebanyak 26 Imigran Gelap Ditahan di NTT

TEMPO Interaktif, Kupang - Sebanyak 26 imigran yang terdampar di Pantai Tenyai, Kelurahan Ledeunu, Kecamatan Raijua, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (7/6), dievakuasi ke Kupang dan ditahan di rumah detesensi imigrasi.

Puluhan imigran tersebut hendak mencari suaka ke Australia. Namun kapal yang ditumpangi mereka dari Makassar bocor setelah dihantam gelombang dan terdampar di Pulau Raijua.

Mereka dievakuasi Kepolisian Daerah NTT dan Imigrasi Kupang menggunakan kapal motor (KM) Feri Ile Ape milik PT ASDP Kupang dengan pengawalan ketat. Para imigran tersebut berasal dari Afganistan, Somalia, dan Vietnam. Mereka di antaranya dua orang anak-anak dan dua orang wanita.

Mereka sebelumnya diberangkatkan dari Makassar menggunakan kapal kayu "Doa Selamat" milik nelayan Sulawesi. Selain 26 imigran tersebut, turut diamankan tiga orang anak buah kapal (ABK).

Kepala Pengawasan dan Penindakan Imigran, Imigrasi Kupang, Moon Bagari mengatakan para imigran ini hendak masuk ke Australia untuk mencari suaka, namun kapal yang membawa mereka terdampar di Pulau Raijua akibat perahu mengalami kebocoran.

Menurut dia, untuk sementara para imigran ini akan ditampung di kantor Imigrasi Kupang untuk diproses dan selanjutnya akan diserahkan ke rumah detensi guna dikarantina sebelum dideportasi kembali. "Mereka diserahkan ke pihak imigrasi untuk selanjutnya dideportasi ke negara asalnya," kata dia.

Sementara itu, nakhoda kapal motor "Doa Selamat", De Seran mengatakan para imigran ini dibawa dari Makassar dengan tujuan Pulau Pasir Australia dengan bayaran Rp10 juta per orang. Apabila berhasil membawa para imigran tersebut sampai ke Pulau Pasir Australia. "Saya diperintah pemilik kapal Haji Bobo untuk membawa para imigran ini ke pulau pasir," katanya.

Dalam lima bulan terakhir ini, ratusan imigran gelap berhasil diamankan dan digagalkan kepolisian polda NTT untuk masuk ke Australia untuk mencari suaka.

YOHANES SEO