Deretan ikan hias air laut dijual di pasar ikan hias Jalan Peta, Bandung,(4/6). Ikan hias tersebut dijual mulai dari Rp 5.000 sampai Rp 25.000 per ekor dan omzet rata-rata pedagang mencapai sekitar Rp 300.000 per hari. TEMPO/Prima Mulia
Ikan Hias Jadi Idaman Ekspor Banyuwangi
TEMPO Interaktif, Banyuwangi - Komoditas ekspor Banyuwangi masih mengandalkan hasil perikanan dan kelautan. Komoditas eskpor terbesar selama ini disumbang oleh usaha ikan hias, udang serta ikan kaleng atau sarden. Tahun lalu ekspor ikan hias menempati urutan pertama senilai Rp 2,8 miliar. Tujuan ekspor produk itu antara lain Jepang, Taiwan, Hong Kong, Cina, dan Jerman.
"Volume ekspor lebih dari satu juta ekor tiap tahun," kata Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Banyuwangi, Yoppy Bayu, kepada Tempo, Selasa (8/6). Ada lima perusahaan di bidang ekspor ikan hias laut. Produknya antara lain jenis Angle piyama, Angle napoleon, dan Angle doreng.
Ekspor ikan kaleng atau sarden tahun lalu mencapai 120 juta unit atau senilai Rp 884 juta. Sementara ekspor udang beku 120 juta unit senilai Rp 476 juta. Ekspor kedua jenis komoditas itu meliputi Selandia Baru, Australia, Malaysia, Thailand, Afrika Selatan, dan Amerika Serikat.
Selain hasil perikanan dan kelautan, kayu olahan juga sudah menjangkau pasar luar negeri. Namun angkanya terlampau kecil hanya Rp 97 juta. Angka ekspor itu masih kecil karena Banyuwangi lebih banyak menyuplai bahan baku ke perusahaan di daerah seperti Bali, Surabaya, dan Malang. "Untuk produk pertanian kita lebih banyak menyuplai bahan baku," ujarnya.
IKA NINGTYAS





