indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Gudang Garam Bakal Tunjuk Nakhoda Baru

Gudang Garam Bakal Tunjuk Nakhoda Baru

TEMPO/Achmad Budi

TEMPO Interaktif, Kediri - Para pemegang saham perusahaan rokok PT Gudang Garam (Tbk) bakal menunjuk dewan direksi dan komisaris perusahaan yang baru dalam rapat umum pemegang saham yang digelar di Hotel Grand Surya, Kediri, Jawa Timur, Kamis (17/6) pagi.

Menurut Kepala Bagian Hubungan Masyarakat PT Gudang Garam, Yuli Rosyadi mengatakan, rapat juga akan membahas delapan kebijakan penting menyangkut perusahaan. “Ini salah satu agenda terpenting perusahaan,” kata Yuli kepada Tempo.

Kedelapan topik tersebut adalah mendengar dan membahas laporan direksi atas jalannya perseroan, pengesahan neraca dan penghitungan rugi dan laba tahun buku 2009, penetapan deviden tahun buku 2009, dan pelimpahan kewenangan kepada rapat direksi untuk tugas dan tanggung jawab.

Selain itu, para pemegang juga akan membahas pelimpahan kepada dewan komisaris terhadap besaran gaji direksi, penetapan gaji atau tunjangan dewan komisaris, perubahan susunan kepengurusan, dan penunjukan akuntan publik.

Gudang Garam didirikan pada 26 Juni 1958 oleh Tjoa Ing Hwie, atau yang lebih dikenal dengan nama Surya Wonowidjojo. Saat ini, produsen rokok keretek itu memiliki kompleks tembakau sebesar 514 are di Kediri.

Gudang Garam memulai produksi rokok keretek dari kelobot dengan merek Inghwie. Setelah dua tahun berjalan Ing Hwie mengganti nama perusahaannya menjadi Pabrik Rokok Tjap Gudang Garam.

Kini perusahaan tersebut menjadi salah satu industri rokok terbesar Indonesia dengan pangsa pasar 21,5 persen pada tahun lalu. Angka tersebut turun ketimbang 1999 yang sempat memiliki pasar 36 persen.

Adapun rivalnya, PT HM Sampoerna, menguasai 29 persen pangsa pasar. Dua pemain raksasa lain, Bentoel dan Djarum, masing-masing memiliki pangsa 19,4 persen dan 13 persen dalam industri rokok.

HARI TRI WASONO | BC

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X