Pemerintah kabupaten Bantul, Yogyakarta memberikan bantuan berupa paket kompor gas untuk 506 Taman Kanak-kanak (24/11). Diharapkan Taman Kanak-kanak tidak menggunakan kompor minyak tanah atau kayu untuk memasak bagi para murid. TEMPO/Muh.Syaifullah
Topik
Produsen Tekor Gara-gara Kompor Gas Bodong
TEMPO Interaktif, Jakarta - Produsen kompor gas merasa dirugikan akibat peredaran aksesori tabung gas palsu. Namun, asosiasi pengusaha belum bisa memperkirakan sejauh mana kerugian langsung akibat dari peredaran produk.
"Sebab, maraknya produk palsu baru terjadi akhir-akhir ini sepanjang 2010," kata Tri Antoni, Ketua Asosiasi Produsen Kompor Gas, melalui pesan pendek kepada Tempo, Kamis (17/6).
Menurut Tri, selama ini produksi kompor gas dan aksesorinya, di luar program konversi minyak tanah ke gas, selama ini masih stabil. "Produksi sebesar 1,2 juta unit per tahun," ujar dia.
Sementara untuk program konversi minyak tanah ke gas, kompor gas dan aksesori setiap tahunnya diproduksi dalam jumlah yang berbeda. Pada 2006-2007, kompor gas dan aksesori yang diproduksi sebanyak 10,26 juta unit.
Sedangkan pada 2008, produksi mencapai 15,1 juta unit. Adapun pada 2009 dan 2010, jumlah produksi kompor gas dan aksesorinya masing-masing sebesar 18,57 juta unit, dan 7,5 juta unit.
Sebelumnya, tim gabungan yang terdiri dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Kepolisian menemukan adanya gudang dan industri rumahan yang memproduksi aksesori tabung gas palsu.
Aksesori yang diimpor tanpa merek itu kemudian dikemas ulang dengan menggunakan merek-merek terkenal. Tri mengakui, dengan pemalsuan aksesori tersebut bisa mempengaruhi penjualan merek aslinya.
EKA UTAMI APRILIA





