Banjir kembali melanda kawasan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, akibat luapan air Sungai Citarum, Minggu (21/3). Transportasi melalui jalur ini putus total dan ribuan rumah terendam. TEMPO/Prima Mulia
Mayoritas Daerah Aliran Sungai di Indonesia Parah
TEMPO Interaktif, Jakarta - Hasil penelitian Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa 26 dari 39 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang ada di Indonesia dalam kondisi memprihatinkan. Bahkan ada yang masuk kategori sangat parah seperti DAS Citarum di Jawa Barat.
“DAS Citarum sudah rusak dari hulu sampai hilir,” terang Deputi Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Lingkungan Hidup Henry Bastaman, di Surakarta, Rabu (23/6).
Dia mengibaratkan semisal DAS Citarum seperti manusia, maka sakitnya sudah sangat parah dan kritis. “Misal manusia, harus masuk ICCU (Intensive Coronary Care Unit),” lanjutnya. DAS lain yang menjadi perhatiannya adalah DAS Bengawan Solo yang disebutnya masuk kategori penyembuhan di ruang high care.
Permasalahan DAS Bengawan Solo diantaranya banjir, kekeringan, erosi, sedimentasi, intrusi air laut, dan kualitas air yang menurun.
“Butuh peran serta masyarakat dan pemerintah untuk secara sinergis menyelesaikan permasalahan DAS,” tandasnya. Prioritas perbaikan dimulai dari hulu dengan cara konservasi, penataan ruang, dan penyusunan kajian lingkungan hidup strategis.
Henry mengatakan, pemerintah daerah juga diwajibkan untuk menyediakan anggaran untuk lingkungan. Meskipun tidak ditetapkan harus berapa persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah masing-masing. “Karena tidak ditetapkan, maka menjadi tidak terbatas,” tuturnya.
Dia menyebut saat ini baru sekitar 3 persen daerah yang sudah mengalokasikan dana untuk lingkungan. “Kisarannya dari Rp 25 juta sampai hampir Rp 1 triliun,” ucapnya sembari menambahkan kebanyakan adalah kota metropolitan.
Henry mengaku tidak bisa memaksa daerah untuk menganggarkan dana untuk lingkungan. Dia memahami kondisi anggaran dan prioritas penggunaan. “Kami hanya bisa mendorong,” katanya.
Ketua kelompok tani Desa Gemawan, Kecamatan Ngadirojo, Wonogiri Satimin mengatakan sudah sejak 2006 melakukan berbagai upaya untuk mengembalikan fungsi DAS Bengawan Solo seperti semula. “Kami menanam tanaman bambu di pinggir sungai,” jelasnya.
Tanaman bambu yang merupakan jenis tanaman keras tersebut diharapkan dapat mengurangi erosi tanah di pinggir sungai. “Kami menanam sepanjang 2 kilometer di Kecamatan Ngadirojo,” tambahnya.
UKKY PRIMARTANTYO





