Pekerja membersihkan kaca di sebuah gedung perkantoran, Jakarta, Selasa (15/12). Permintaan kebutuhan ruang perkantoran di area central business district (CBD) mengalami peningkatan selama periode 2009. TEMPO/Dinul Mubarok
Topik
Boediono Ingatkan Sektor Properti Tak Patok Target Ketinggian
TEMPO Interaktif, Jakarta - Wakil Presiden Boediono mengingatkan sektor properti dan industri keramik agar tidak perlu mematok target pertumbuhan terlalu tinggi. "Pertumbuhan dari sektor properti dalam keadaan normal saja ruang geraknya sudah cukup luas," kata Boediono dalam pembukaan World Ceramic Tiles Forum di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (30/6).
Dia menyakini, jika target perekonomian setelah 2014 mencapai 7-8 persen, ada kemungkinan pertumbuhan manufaktur di bidang keramik bisa naik 1,5-2 persen. "Akhir-akhir ini kita mendapatkan pelajaran. Kita terlalu mengejar pertumbuhan jangka pendek, tapi melupakan jangka menengah maka panjang," katanya.
Akibatnya timbul gelembung ekonomi (economy bubble). Sebab itu hindari gelembung yang disebabkan oleh peningkatan pertumbuhan di luar perhitungan rasional harga-harga. Memang dalam jangka 1-2 tahun, kata Boediono, saat gelembung itu terbentuk, semua orang senang sekali.
Hal itu ditandai dengan penjualan meningkat, dan keuntungan naik. Tapi gelembung ini akan pecah. Masa-masa pecah ini merupakan saat yang paling menyakitkan. "Semua terkena dampaknya, termasuk mereka yang dapat manfaat sebelumnya. Ini bisa dihindari dengan kebijakan yang antisipatif," ujarnya.
Pemerintah, kata Boediono, menargetkan adanya akselerasi pertumbuhan ekonomi dari 6 persen saat ini menjadi 7-8 persen mulai 2014. Kenaikan itu akan digerakkan pasar domestik. Namun, pemerintah bukan penggerak utama, namun hanya sebatas katalis pertumbuhan, terutama pembangunan infrastruktur.
"Dengan peningkatan ekonomi, sektor properti akan meningkat sebagai turunan dari peningkatan sektor produksi," katanya. Dia mengatakan, kemungkinan pertumbuhan di sektor properti akan meningkat lebih cepat lagi. Alasannya, kebutuhan perumahan dan gedung masih belum terpenuhi.
Namun, Boediono mengingatkan pembangunan bidang properti yang diperlukan adalah perencanaan pada tingkat kota, daerah, tata ruang yang dilaksanakan dengan baik. "Dalam waktu mendatang masalah tata ruang, zonasi, perencanaan dari berbagai daerah, khususnya di kota besar akan ditingkatkan," ujarnya.
Boediono melihat potensi ekspor keramik yang sangat luas. Indonesia memiliki keunggulan yaitu, material, bahan mentah yang cukup melimpah dan energi yang tersedia bermacam-macam bentuk, dan jumlahnya tidak sedikit. "Tapi belum secara efektif kita manfaatkan sebagai dukungan bagi produksi," tutur dia.
Dengan demikian pemerintah menyiapkan sistem energi berbasis gas untuk industri masa mendatang. Sistem itu sebagai salah satu cara meningkatkan daya saing dengan biaya energi yang lebih murah dibandingkan minyak. "Kita akan mengarah pada penggunaan gas yang lebih besar di bidang industri, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga," katanya.
EKO ARI WIBOWO





