Topik
Warga Gadai Barang Untuk Biayai Anak Sekolah
TEMPO Interaktif, Jakarta - Tingginya biaya pendidikan di Kupang, Nusa Tenggara Timur menyebabkan warga harus menggadaikan barang berharga untuk membiayai sekolah anak-anak mereka.
Salah satu alternatif untuk mendapatkan uang tunai agar bisa mendaftarkan anak sekolah, warga pun menggunakan jasa Pegadaian. Kantor Pegadaian yang terletak di Kelurahan LLBK pun diserbu oleh warga yang ingin menggadaikan barang mereka.
Misalnya, Lambert Neru, 40 tahun, harus menggadaikan perhiasan milik istrinya guna memenuhi kebutuhan anaknya membeli seragam, buku dan kebutuhan lainnya. "Saya terpaksa menggadaikan perhiasan, karena tidak miliki uang untuk anak sekolah. Tapi perhiasan ini akan ditebus kembali," katanya di Kupang, Jumat (2/7).
Menurut dia, anaknya baru lulus sekolah dasar dan akan melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama. Namun, biaya masuk sekolah negeri di Kupang berkisar Rp 1,5-Rp 2 juta.
Biaya tersebut masih bisa terpenuhi dengan hasil gadaian perhiasan tersebut, tapi jika tidak diterima di sekolah negeri, maka ia masih harus mencari uang tambahan untuk mendaftarkan anaknya di sekolah swasta yang mencapai Rp 5 juta.
Sementara itu, Kepala Pegadaian Cabang Kupang, Agus Kurniawan Saputra mengatakan, omzet pegadaian mengalami peningkatan hingga 30 persen menjelang tahun ajaran baru sekolah, jika dibandingkan dengan hari-hari biasa.
Barang-barang yang digadai warga, kata dia, 90 persen diantaranya adalah perhiasan, sedangkan 10 persen yakni kendaraan bermotor dan barang elektronik. "Kami kenakan bunga satu persen kepada nasabah dari nilai pinjaman tersebut," katanya. Dia mengatakan, jumlah warga yang menggadaikan saat ini juga mengalami peningkatan.
Hari biasanya hanya mencapai 100 orang, tapi sekarang meningkat sampai sekitar 300 orang yang menggadaikan barangnya. "Jumlah warga yang gadaikan barang terus mengalami peningkatan, jelang masuk sekolah ini," katanya.
YOHANES SEO





