SBY memberikan sambutan saat membuka Muktamar Satu Abad Muhammadiyah melalui teleconference dari Madinah, Arab Saudi (3/7). ANTARA/ Wahyu Putro A
Topik
Yudhoyono: Muhammadiyah harus Terus Pelopori Ide-ide Pembaharuan
TEMPO Interaktif, Madinah - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak agar Muhammadiyah terus memelopori ide-ide pembaharuan sebagai pembawa misi Islam yang terus maju, tumbuh dan berkembang dalam menghadapi tantangan jaman.
“Saya berharap, memasuki abad kedua perjuangannya, Muham madiyah tetap dapat meneguhkan komitmen gerakannya sebagai pembawa misi Islam yang maju,” kata Yudhoyono saat membuka Muktamar Muhammadiyah melalui telekonfrensi di hotel Oberoi, Madinah, Arab Saudi, Sabtu (3/7) pagi waktu setempat, atau Sabtu siang waktu Indonesia barat. Yudhoyono berada di Madinah setelah menunaikan serangkaian perjalanan kenegaraan, termasuk mengikuti KTT G-20 di Toronto, Kanada.
Muhammadiyah, presiden melanjutkan, “Memang harus selalu tampil di barisan terdepan untuk menjadi kekuatan perubahan yang bersifat transformatif menuju terbangunnya peradaban umat manusia yang utama.”
Di era global sekarang ini, kata presiden, kita harus mampu menampilkan semangat dan pesan Islam yang berkemajuan. Di samping itu, juga harus menghadirkan Islam yang ramah dan toleran, serta menjadi peneduh dan penyejuk dalam kehidupan bangsa yang majemuk. “Menghadirkan Islam yang juga dapat menjadi jembatan peradaban di antara timur dan barat,” katanya.
Menurut dia, dialog peradaban yang sering dilakukan oleh Muhammadiyah dan ormas-ormas lain mempunyai nilai penting dan harus terus dikembangkan. Sebab, melalui dialog peradaban dan lintas agama itulah, berbagai pihak dapat saling berinteraksi satu sama lain. “Kita juga dapat saling memahami persamaan dan perbedaan yang ada. Melalui dialog itu pulalah, kita dapat menjalin hubungan yang makin harmonis,” kata Yudhoyono.
Pada bagian lain, presiden mengajak segenap warga Muhammadiyah beserta seluruh organisasi massa Islam di Tanah Air untuk terus menciptakan kehidupan keagamaan yang teduh dan damai. Kehidupan keagamaan yang mengedepankan persamaan daripada memperuncing perbedaan. “Mari kita bangun kerjasama yang positif antarumat seagama dan beragama bagi kemajuan bangsa,” Yudhoyono menegaskan.
Masih menurut presiden, Muhammadiyah juga telah memelopori lahirnya gerakan perempuan Islam ke ruang publik, yakni melalui organisasi ‘Aisyiyah, yang didirikan pada 1917.”‘Aisyiyah merupakan gerakan perempuan Muhammadiyah yang juga mengambil peran dalam Kongres Perempuan Pertama pada 1928,” katanya.
Ketika kaum muslimin masih dibelenggu oleh budaya patriakhi yang meminggirkan posisi peran perempuan, Yudhoyono melanjutkan, maka kelahiran ‘Aisyiyah menjadi sangat penting dan sangat berarti dalam pergerakan Islam modern di Tanah Air. “Kehadiran ‘Asyiyah merupakan cerminan penting dari pesan Islam sebagai agama yang memuliakan harkat dan martabat perempuan tanpa diskriminasi,” kata presiden.
Kelahiran ‘Aisyiyah, kata Yudhoyono, menjadi peristiwa monumental yang sangat besar pengaruhnya dalam pergerakan Islam di Tanah Air. Kontribusi dan partisipasi ‘Aisyiyah sejak didirikan hingga saat ini, kata presiden, “Sangat penting dalam mengangkat derajat kaum perempuan, memberdayakan kaum miskin dan papa, memelihara anak-anak yatim-piatu, dan meningkatkan ibadah sosial yang tidak ternilai pahalanya.”
DWI WIYANA





