foto

Ka''bah menjadi kiblat umat Muslim di dunia dan tiap tahun jutaan manusia menunaikan ibadah haji sebagai rukum kelima. AP| Hassan Ammar

Pesantren Tebu Ireng Bahas Pergeseran Arah Kiblat  

TEMPO Interaktif, Jombang - Pondok Pesantren Sebalak-Tebuireng, Jombang, Jawa Timur akan melakukan kajian tentang arah kiblat yang benar. Hal ini untuk mencari solusi atas kesimpangsiuran kabar melencengnya arah kiblat masjid di Indonesia, yang diduga disebabkan gempa.


“Ini untuk menjawab keresahan ummat. Rumusan kajian ini akan kami sebarkan ke masyarakat melalui organisasi keagamaan, mulai Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah,” kata Imam Subkhi, Ketua Panitia Acara kajian arah kiblat dan jadwal waktu sholat, yang bertajuk “Semiloka Nasional Pembahasan Arah Kiblat dan Jadwal Waktu Sholat”, Senin (05/07).

Kajian ini akan digelar mulai 12 hingga 14 Juni 2010 nanti. Kajian melibatkan beberapa elemen organisasi keagamaan, di antaranya 17 pondok pesantren, perwakilan NU dan Muhammadiyah, akademisi dari perguruan tinggi Islam, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum.

Bermula dari berbedaan pendapat antara beberapa ahli geologi yang membenarkan melencengnya arah kiblat ini. Gempa di beberapa lokasi membuat lempengan bumi bergeser, hingga mempengaruhi arah kiblat masjid. Lempeng bumi, kata dia, bergeser sepanjang 7 senti meter setiap tahun. Hal itu jelas berpengaruh pada posisi kiblat.

Padahal, salah rukun sholat adalah menghadap kiblat. Jika kiblat ini sudah tidak lurus lagi, keabsahan shalat ummat Islam di Indonesia patut dipertanyakan.

Namun, wacana dari para ahli geologi itu dibantah Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Kata Imam, LAPAN menganggap kajian itu tak berdasar karena belum melalui proses kajian secara ilmiah. “Kesimpang siuran itulah yang membingungkan masyarakat,” kata dia.

MUHAMMAD TAUFIK