Penjaja Seks Berdatangan di Musim Tembakau

TEMPO Interaktif, Pamekasan: Ibu-ibu di sekitar Pasar 17 Agustus, Pamekasan, Jawa Timur, dalam sepekan terakhir menjadi resah. Keresahan itu muncul gara-gara kehadiran dua perempuan berpenampilan seksi yang sering terlihat di  warung kopi, tidak jauh dari pasar.

"Warung kecil kok punya pelayan, seksi lagi, kami curiga mereka pelacur," kata Nyonya Taufik, warga setempat. Kecurigaan inilah yang mengantar mereka untuk  melaporkan ke  Polisi Pamong Praja.

Dengan dasar laporan itu petugas menyatroni kedai kopi tadi. Saat itu kedua pelayan tadi tengah bercanda dengan pembeli. Tingkah laku sang pelayan yang genit itu membuat petugas yakin laporan warga tidak meleset. "Kami curiga mereka memang pekerja seks," kata Kepala Polisi Pamong Praja Pamekasan Kusairi. Petugas lantas menggiring kedua perempuan itu ke kantor kecamatan untuk diperiksa.

Dari hasil pemeriksan diketahui, kedua perempuan itu memiliki nama Wulan dan Tatik. Dalam kartu tanda penduduk mereka  tercatat sebagai warga Desa Kembang, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Situbondo.

Namun tidak mudah bagi petugas untuk membuktikan bahwa kedua perempuan itu adalah pekerja seks. Apalagi bukti yang dimiliki hanya laporan dari warga. Ketika ditangkap pun kedua perempuan itu tidak sedang melakukan perbuatan asusila.  "Kami bukan pelacur. Pamong salah tangkap," kata Tatik dengan nada protes. Akhirnya kedua perempuan itu dilepas setelah nama dan identitas mereka dicatat.

Sekertaris Komite Urusan Tembakau Pamekasan Heru Budi Prayitno mengatakan, di Madura, setiap musim panen tembakau kerap didatangi perempuan dari luar daerah. Umumnya mereka berasal dari  Pulau Jawa. "Mereka ke sini untuk menjadi pekerja seks," kata Heru. Mereka mudah di jumpai di wilayah pantai utara Madura. "Ini sudah terjadi sejak lama, hanya aparat saja kurang sigap."

Kenapa musim tembakau? Menurut Heru, musim tembakau identik dengan uang. Sebab saat itulah petani-petani tembakau menuai  hasil keringat mereka. Apalagi keuntungan dari penjualan tembakaiu mencapai jutan rupiah. Situasi inilah yang dimanfaatkan pekerja seks untuk meraup rupiah.

Kusairi membenarkan gejala yang muncul setiap musim panen tembakau itu. Namun untuk mencegah adanya praktik pelacur tidak mudah bagi dirinya. Sebab secara tidak langsung, bisnis haram ini juga menguntungkan warga. Mereka, misalnya, bisa menjadi germo atau menyewakan kamar-kamar. "Kami juga susah melacak karena kebanyakan pelacur berperasi di wilayah pedesaan," katanya.

MUSTHOFA BISRI