foto

Komputer Tak Hanya Merusak Mata

Layar Bikin Penglihatan Buyar  

TEMPO Interaktif, Jakarta -Sudah lama Rahmat merasakan sakit kepala jika berlama-lama di depan layar komputer. Rasa sakit itu akan menjalar ke leher dan punggung. Pekerja lepas desain grafis ini memang biasa selama berjam-jam tanpa jeda mengerjakan order desain. Tangannya sibuk menggeluti papan ketik dan mouse. Pandangannya berfokus ke layar.

Namun, begitu kelar main komputer, dia mulai merasakan akibatnya. "Kadang penglihatan jadi kabur dan buyar," kata lajang berumur 30 tahun ini.

Komputer adalah alat kerja yang sudah jamak saat ini. Orang sudah biasa bekerja dengan menggunakan komputer dalam jangka waktu lama. Bahkan makin sedikit bidang pekerjaan yang tak dijamah oleh komputer. Namun apa akibatnya jika berlama-lama bekerja di depan komputer? Salah satunya apa yang dirasakan Rahmat: sindrom vision computer syndrome (VCS).

Menurut American Optometric Association, VCS terjadi pada 70-75 persen pengguna komputer. Sindrom ini ditandai oleh beberapa gejala, yakni mata lelah, penglihatan jauh maupun dekat jadi kabur, mata kering, sakit kepala, sakit leher atau punggung, dan penglihatan ganda (diplopia).

Lingkungan kerja banyak berpengaruh pada terjadinya VCS. Di antaranya ukuran kontras dan resolusi layar, pencahayaan, jarak dan sudut mata dengan layar, serta durasi kontak mata dengan layar. Masalah terjadi ketika tuntutan visual melebihi kemampuan seseorang untuk melakukan tugas tersebut.

Menurut dokter spesialis mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dr Tri Rahayu, SpM, layar komputer pada dasarnya bukanlah obyek diam. "Tapi obyek bergerak," kata dia. Akibatnya, jika obyek yang diamati melebihi kemampuan mata, akan membuat mata lelah dan kering.

Tri menyatakan, agar tak membuat capek leher dan punggung, perlu diperhatikan posisi ergonomis ketika bekerja dengan komputer. "Tinggi layar harus sejajar dengan mata," kata dia. Jangan sampai membuat punggung membungkuk atau mendongak. Usahakan punggung dalam posisi lurus. Selain itu, posisi tangan kala mengetik harus dalam posisi rileks, dan jangan terlalu tinggi atau jauh.

Jika sudah akut, VCS bisa menjadi radikal bebas alias oksidan. Menurut ahli penyakit jantung dan penyakit dalam dari RS Pertamina, dr Djoko Maryono, sindrom ini seperti halnya oksidasi lainnya. "VCS termasuk radikal bebas," kata dia.

Radikal bebas atau oksidan adalah molekul oksigen yang tak stabil. Oksidan sebenarnya berfungsi bagi tubuh, asalkan jumlahnya tak berlebihan, antara lain untuk melawan radang dan membunuh bakteri. Namun oksidan cenderung berlebihan jika mendapatkannya dari luar, misalnya rokok, polusi, sinar ultraviolet, zat pewarna dalam makanan, dan insektisida.

"Oksidan berlebih bisa menyebabkan stres oksidatif," tutur Djoko. Stres oksidatif adalah keadaan di mana jumlah oksidan di dalam tubuh melebihi kapasitas tubuh untuk menetralisasinya. Akibatnya, intensitas proses oksidasi sel-sel tubuh normal menjadi semakin tinggi dan menimbulkan kerusakan yang lebih banyak.

Menurut Djoko, stres oksidatif laiknya stres psikis. "Ini stres kimiawi dalam tubuh," ia melanjutkan. Akibatnya, tubuh mengalami penuaan dini. Stres oksidatif juga bisa menyebabkan timbulnya penyakit kronis, seperti kanker, penyakit jantung, dan Alzheimer. Komputer, kata Djoko, mempengaruhi proses oksidasi tubuh dengan radiasinya.

Stres oksidatif dapat dicegah dan dikurangi dengan mengkonsumsi asupan antioksidan yang cukup dan optimal ke dalam tubuh. "Misalnya konsumsi buah, sayuran, atau multivitamin."

Selain itu, untuk mencegah, menurut Djoko, dikenal Hukum 20. Penjelasannya, tiap 20 menit mata melihat ke layar, perlu istirahat selama 20 detik untuk melihat obyek dalam jarak 20 kaki (6-7 meter). "Usahakan mata diberi waktu istirahat."

Nur Rochmi