Ilustrasi anak SD. Tempo/Budi Yanto
Topik
Agar Tak Menangis di Hari Pertama
TEMPO Interaktif, Jakarta - Hari-hari menjelang musim sekolah dimulai, Theresia, 32 tahun, punya aktivitas tambahan. Selain mulai menyiapkan seragam, buku, dan perlengkapan lainnya, ia biasa mengajak putra sulungnya, Tommy, mengenali sekolah dasar yang akan dimasukinya mulai Senin besok.
"Nah, nanti Tommy sekolah di sini. Tommy kan udah gede, udah SD (sekolah dasar). Jadi nanti enggak boleh nangis, ya, di kelas. Malu dong sama temen-temen," kata Theresia menirukan nasihat kepada putranya itu.
Theresia sengaja mengajak Tommy berorientasi ke calon sekolahnya karena tak ingin kejadian setahun sebelumnya terulang. Kala itu Tommy masuk taman kanak-kanak. Selama tiga hari pertama, Theresia dipaksa ikut masuk ke kelas. Jika tak dipenuhi, Tommy akan menangis histeris. "Dia pernah sampai menggigit lengan gurunya," kata Theresia saat ditemui Rabu lalu.
Selain pengenalan, yang tak kalah penting dipersiapkan Theresia adalah menyesuaikan jadwal bermain Tommy. Sementara sebelumnya anak yang baru berusia 6 tahun itu bisa bermain PlayStation (PS) tiga jam penuh bersama teman-temannya, sudah beberapa hari ini kegiatan itu mulai dibatasi menjadi satu jam saja dan tanpa teman-teman. "Kalau main PS sendirian kan enggak seru, jadi dia juga enggak akan betah bermain lama-lama," kata Theresia.
Lain halnya dengan Alesya Eka Utami, 28 tahun. Meski mengaku tak melakukan persiapan khusus, ia merasa perlu memperkenalkan taman-kanak-kanak A yang akan dimasuki putrinya, Fathiah. Alesya tak terlalu cemas putrinya yang baru berusia 3,5 tahun itu akan rewel di awal masa sekolahnya. Sebab, ketika mengikuti program pendidikan anak usia dini, Fathiah cepat beradaptasi.
Psikolog Efriyanti Djuwita menilai apa yang ditempuh kedua ibu itu sudah benar karena akan membantu memudahkan anak bersosialisasi dengan lingkungan baru. Begitu juga memperkenalkan anak dengan calon temannya saat pendaftaran pun akan sangat membantu.
Lebih baik lagi, kata Efriyanti, jika saat pendaftaran, anak juga dikenalkan dengan calon teman-temannya di sekolah nanti. "Jelaskan pada anak bahwa nanti di sekolah ada apa saja, temannya akan banyak, dan ia akan bisa bermain banyak dengan teman-temannya itu," kata Efriyanti.
Para orang tua, dia melanjutkan, memang setidaknya harus menyiapkan tiga hal bagi anaknya yang akan memasuki masa sekolah di tingkat paling dasar. Setiap anak yang akan sekolah, menurut Efriyanti, harus dalam keadaan sehat dan memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukan kegiatan di sekolah, baik di TK maupun SD. "Kalau tidak fit, anak akan malas-malasan sekolah," ujarnya.
Hal kedua yang harus disiapkan adalah aspek kognitif si anak, khususnya yang baru akan masuk TK. Hal ini antara lain dapat dilakukan dengan membekali anak tentang warna dan benda. "Untuk membantu anak mengungkapkan pendapatnya nanti," kata Efriyanti.
Terakhir adalah berkaitan dengan emosi anak. Orang tua dapat mengajarkan bagaimana caranya bila bertemu dengan guru dan sesama teman. Simulasi seperti ini penting agar anak dapat mandiri dan bersosialisasi dengan lingkungan barunya di sekolah.
Kalaupun anak tetap menangis di hari pertamanya bersekolah, kata Efriyanti, hal itu wajar. Sebab, setiap anak punya kecepatan beradaptasi yang berbeda. Orang tua, kata dia, cukup melakukan adaptasi "berjarak". Artinya, jika di hari pertama ibu menemani anak di dalam kelas, hari kedua ibu menemani anak di depan pintu kelas. Pada hari ketiga, ibu bisa menemani anak di luar kelas.
Hal lain yang tak kalah penting adalah meminta bantuan guru agar perhatian anak teralihkan dari si ibu, misalnya melalui permainan atau melalui teman-temannya. Dengan langkah ini, niscaya anak akan cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya. l FANNY FEBIANA






