Topik
UNS Kembangkan Alat Deteksi Dini Tanah Longsor
TEMPO Interaktif, Surakarta – Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tengah mengembangkan alat deteksi dini tanah longsor, bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Alat tersebut berbasis teknologi tanpa kabel atau wireless. “Nama alatnya inklinometer,” jelas Pembantu Dekan I Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNS Ari Handono Ramelan kepada wartawan, Rabu (14/7).
Alat tersebut akan mampu mendeteksi tanah longsor dengan lebih responsif. Alat akan mengirimkan setiap getaran tanah yang diperkirakan akan mengakibatkan longsor, ke stasiun penerima. “Karena tanpa kabel, teknisnya jadi lebih mudah,” tambahnya.
Dia mengakui, alat serupa sudah ada di Australia. Meski begitu, “Alat yang kami buat lebih responsif terhadap setiap pergeseran tanah dan harganya lebih kompetitif.”
Jika alat serupa buatan Australia dibanderol Rp 350-400 juta, Ari menjamin alat buatannya tidak lebih dari Rp 100 juta. Inklinometer yang sedang dibuatnya sudah dipesan Pemerintah Kabupaten Sukoharjo, untuk dipasang di daerah-daerah yang rawan tanah longsor.
Selain inklinometer, pihaknya juga mengembangkan alat deteksi banjir berdasarkan ketinggian air di sungai. Alat yang dilengkapi sensor tersebut dipasang di pinggir sungai. Alat lainnya deteksi polusi udara dengan sinar infra merah. Alat tersebut diklaim lebih akurat dalam memantau tingkat polusi. “Kami bekerja sama dengan Universitas New South Wales Australia,” terangnya.
Ide pembuatan inklinometer dan alat-alat lainnya di atas, dijelaskan Ari, berasal dari Konferensi Internasional Fisika dan Aplikasinya, yang diselenggarakan UNS tiap dua tahun sekali sejak 2001. Konferensi tersebut mengundang pakar dan peserta dari berbagai negara Asia Pasifik seperti Kamboja, Jepang, Iran, Jepang, Malaysia, dan Filipina, untuk memaparkan hasil penelitian yang berbasis fisika.
“Dari konferensi tersebut, muncul banyak ide dan gagasan untuk membuat alat-alat yang berguna bagi masyarakat,” ucapnya. Sejalan dengan tema konferensi kali ini tentang teknologi ramah lingkungan dan manajemen bencana, maka banyak dimunculkan gagasan alat-alat deteksi dini bencana. “Juga pengembangan teknologi ramah lingkungan seperti sel surya berbasis pewarna alami,” katanya.
UKKY PRIMARTANTYO