Mark Webber. AP Photo
Webber Berdamai dengan Red Bull
TEMPO Interaktif, London - Mark Webber mengatakan sudah berdamai dengan Red Bull, setelah menyalahkan timnya karena lebih memprioritaskan Sebastian Vettel dalam Grand Prix Inggris di Sirkuit Silverstone, Minggu pekan lalu. Webber yang memenangi GP Inggris itu marah setelah bos Red Bull, Christian Horner, memutuskan memberikan cadangan sayap depan mobil kepada rekannya, Vettel, hanya beberapa menit sebelum babak kualifikasi berlangsung Sabtu pekan lalu.
Webber masih marah meski sukses mencatat waktu tercepat kedua di belakang Vettel dalam kualifikasi GP Inggris itu. Tapi, setelah memenangi balapan keesokan harinya, pembalap asal Australia bilang kepada timnya melalui saluran radio: "Tidak jelek
untuk seorang pembalap nomor dua." Ia kemudian mengatakan kalau tidak akan pernah lagi memperbarui kontraknya dengan sebuah tim, jika ia tahu akan dikhianati.
Komentar kerasnya itu menyulut api perpecahan di tim Red Bull yang didukung oleh produsen mesin Renault itu. Bibit pertikaian sudah muncul sejak Horner memustukan mendukung Vettel setelah dua pembalap Red Bull itu bertabrakan di GP Turki.
Untuk mencegah perpecahan benar-benar terjadi, Horner menunda pertemuan tim selagi masing-masing pihak masih dalam suasana emosional. Tapi, Kamis lalu, dalam situsnya, pembalap Australia berusia 33 tahun tersebut mengatakan kalau kini air sudah mengalir di bawah jembatan. Kata-kata kiasan itu mengisyaratkan hatinya sudah mulai dingin.
"Saya memang kecewa Sabtu lalu setelah peristiwa kualifikasi untuk balapan Minggu. Tapi, itu hanya karena saya ingin seperti setiap pembalap lainnya dalam trek yaitu ingin mencari peluang terbaik untuk sukses," kata Webber.
"Sebastian menerima sayap depan mobil dengan alasan yang buat saya tidak jelas sampai Sabtu sore itu. Tentu saja saya bisa melihat mengapa sebuah tim pada saat-saat tertentu mendukung seorang pembalap dengan poin lebih baik dalam kejuaraan, jika sumber daya yang ada hanya cukup untuk mendukung sepenuhnya salah satu dari kami," Webber melanjutkan.
Sebelum GP Inggris, Vettel asal Jerman menempati urutan ketiga dalam kejuaraan dunia pembalap musim ini dan Webber di bawahnya. Tapi, setelah juara di Silverstone, Webber menggeser posisi rekannya itu. Adapun dua pembalap Inggris dari tim
McLaren, Lewis Hamilton dan Jenson Button, masih menduduki dua urutan teratas.
Balapan berikut adalah GP Jerman pada 25 Juli mendatang yang merupakan seri ke-11 dari 19 balapan musim ini. Webber berharap Red Bull bisa lebih baik dalam mengatur strategi dan tidak membiarkan dilema yang mereka alami di GP Inggris itu terulang.
"Prioritas untuk poin kepemimpinan dalam kejuaraan," katanya.
Webber juga mengakui ia bisa mengatasi situasi menjadi lebih baik. "Formula 1 adalah kejuaraan dengan persaingan yang sangat ketat sehingga emosi dan nyali selalu tinggi dari waktu ke waktu sebagaimana cabang-cabang olahraga lainnya. Dan, komentar
saya melalui radio setelah balapan adalah contoh dari sarkasme Australia," katanya. Ia menambahkan bahwa hubungannya dengan Vettel dan Horner tidak menjadi lebih buruk setelah GP Inggris itu.
"Saya dan Christian Horner sudah kenal beberapa tahun. Kami berkawan dan saling menghormati. Saya tahu saya juga rekan pembalap satu tim yang sangat bagus. Kami saling berbagi informasi dalam pertemuan tim dan sama-sama memberikan kontribusi
bagi perbaikan dan pengembangan tim."
Webber lantas menegaskan: "Saya dan Seb bukan musuh. Kami hanya dua pembalap yang berjuang keras dan menginginkan berbuat yang terbaik buat kami dan tim. Hanya itu." "Hasil Grand Prix Inggris sangat menyenangkan buat saya dan tim. Bagaimanapun
waktu bergerak cepat dan melihat ke cermin terlalu lama tidak menoolong kami menghadapi balapan di Jerman. Kami harus terus melangkah," ia melanjutkan. AFP | REUTERS | PRASETYO





