sxc.hu
Topik
Diskusikan Perbedaan Sebelum Menikah
TEMPO Interaktif, BANDUNG - Mengapa suatu perkawinan tidak hanya cukup dengan cinta, uang, dan kesehatan? "Penyatuan dua individu akan menjadi sebuah ikatan, tapi individualistiknya tidak boleh dihilangkan," ujar konsultan personalia senior dari Right Management Consultant, Meta Trisasanti, Sabtu, 17 Juli 2010..
Setiap individu calon pasangan suami-istri tetap memiliki ciri-ciri pribadinya. Tidak aneh seandainya ada pasangan dengan kepribadian bertolak belakang mampu mengabadikan perkawinan hingga ajal memisahkan mereka. Sementara di sisi lain ada pasangan yang tampak serasi pada awalnya karena mereka mempunyai kesamaan, tetapi ternyata perkawinannya berujung dalam waktu seumur jagung.
Di awal menjalin hubungan, kata Meta, cinta memang alat ampuh untuk menyatukan pasangan. "Tapi, levelnya hanya sampai untuk mampu memahami perbedaan-perbedaan," tuturnya dalam seminar "Seratus Persen Siap Nikah: Premarital Check Up, Persiapan Mental, dan Finansial" yang digelar di Hotel Hyatt Regency, Bandung.
Terdapat hal esensial dalam menjalani hubungan yakni kepribadian dan kualitas pribadi. Tiap-tiap individu memiliki kepribadian. Di samping itu, ada kualitas pribadi yang sangat menentukan keterampilan seseorang dalam mengasah, memelihara, dan mempertahankan hubungan.
Lewat usia 60 tahunan, pasangan suami-istri tidak melulu berbicara lagi soal cinta. "Ada hal selain cinta, yaitu kualitas pribadi dan keterampilan untuk mempertahankan sebuah hubungan," jelas Meta.
Kesamaan pribadi bukan hal penting bagi suatu pasangan. Pribadi manusia memang diciptakan sedemikian unik dan berbeda satu sama lain. "Tidak ada yang sempurna. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan," lanjut praktisi yang sudah berpengalaman lebih dari 18 tahun menggeluti bidang personalia di berbagai industri ini.
Memahami dan mengenal pribadi, khususnya pasangan, salah satunya dapat dilakukan dengan mengidentifikasi tipenya. Salah satunya melalui rujukan Myer-Briggs Type Indicator (MBTI). Setiap orang memiliki empat dimensi dari kategori MBTI tersebut.
Kategori arah perhatian dan energi terdiri dari tipe extrovert (energi tinggi - lebih banyak bicara daripada mendengar) dan introvert (energi ''tenang'' - lebih banyak mendengar daripada bicara), sedangkan cara mencari informasi mencakup tipe sensing (spesifik dan fokus pada detail) dan intuition (fokus pada ''gambaran besar'' dan kemungkinan-kemungkinan). Sementara itu, kategori pengambilan keputusan dibagi menjadi thinking (membuat keputusan secara objektif) dan feeling (membuat keputusan berdasarkan nilai dan perasaannya). Dari segi gaya hidup atau cara memandang dunia meliputi judging (lebih merasa dengan segala macam yang terjadwal) dan perceiving (menghendaki kebebasan untuk bersikap spontan - pelaksanaan rencana disikapi secara fleksibel).
Meta menerangkan, "Yang terpenting itu bagaimana cara pasangan mengatasi perbedaan dan menjadikannya sebagai sebuah kesamaan. Komunikasi adalah sebuah alat yang paling mendasar dalam hubungan antara manusia."
Tolak ukur kualitas pribadi pasangan meliputi komitmen, kepekaan, pemaaf (generosity), bijak (penuh pertimbangan), kesetiaan, rasa tanggung jawab, dan kepercayaan antara individu. Tiap-tiap pasangan harus mampu memahami perbedaan. Calon suami dan calon istri hendaknya jeli melihat kepribadian, latar belakang budaya, sosial, dan ekonomi, latar belakang keluarga, serta pendidikan pasangan. "Ini akan memengaruhi pola komunikasi dari pasangan tersebut," tutur Meta.
Komunikasi dalam hubungan antara calon pasangan suami istri tidak mungkin satu arah atau monolog. Komunikasi monolog hanya akan menimbulkan kesalahpahaman. "Kemudian akan berlanjut pada pertengkaran. Lantas perpisahan," ujar lulusan Fakultas Pasca Sarjana Psikologi Universitas Indonesia ini.
Bekerja sama, rasa ingin mengetahui apa yang menjadi kebutuhan pasangan, mengalah, memaafkan, serta kompromi dan saling memahami (understanding and compromizing) itu adalah kunci sukses calon maupun pasangan suami istri. Untuk memulai dunia perkawinan dan menjalankan hal itu, ada yang perlu didiskusikan antara calon pasangan.
Meta menuturkan di antaranya, "Utamakan berbicara tentang perbedaan-perbedaan. Saat berpacaran kebanyakan ''manis madu'' yang terasa. Perbedaan itu akan lebih banyak muncul ditahap nanti (saat sudah menikah)."
Sebelum menikah, calon pasangan hendaknya membicarakan alasan mereka untuk melangkah ke jenjang hidup bersama. Jangan terlewat juga soal harapan dan keinginan dari sebuah perkawinan masing-masing pasangan itu apa. Selain itu, bahas pola-pola yang kemungkinan akan diterapkan dalam gaya rumah tangga. Misalnya, tentang pengasuhan anak, gaya keluarga apakah demokrasi, menerapkan egaliter (kedudukan anggota sama), atau feodal, bagaimana budaya keluarga mengatur keuangan, dan sebagainya.
Berdasarkan pengamatan pakar perencanaan keuangan, Eka Setyawibawa, ternyata, "Masing-masing pasangan bisa saja memiliki budaya keuangan dengan latar belakang yang berbeda. Ini bisa jadi masalah perkawinan nantinya jika setiap calon pasangan tidak memahami."
Menurut Meta, "Kalau terdapat perbedaan soal ini, calon pasangan harus mendiskusikan sebelum melangsungkan pernikahan." Begitu pun dengan soal sensitif yang dapat memancing emosi pasangan. Terutama terkait hubungan dengan ipar, mertua, dan kerabat pasangan lainnya.
GILANG MUSTIKA RAMDANI







Web via