foto

ANTARA

Korban Longsor Wonosobo Masih Telantar  

TEMPO Interaktif, Semarang - Sebanyak 61 kepala keluarga yang terkena musibah longsor di Desa Setieng, Kecamatan Kejajar, Wonosobo, hingga kini belum mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Janji pemerintah, baik pusat maupun daerah, yang akan merelokasi rumah yang ambruk akibat bencana longsor itu hingga kini belum direalisasikan. Padahal, musibah ini terjadi pada pertengahan Januari lalu.

Anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Tengah Sri Praptono mengatakan meski musibah sudah terjadi sejak enam bulan lalu, tapi hingga kini pemerintah masih mengabaikan para korban longsor tersebut.

"Padahal sebelumnya pemerintah daerah sudah menjanjikan untuk merelokasi mereka ke tempat yang aman," kata Sri Praptono usai melakukan reses di Wonosobo, Selasa (27/7).

Musibah longsor di Dusun Wonoaji, Desa Tieng, Kecamatan Kejajar, Wonosobo, terjadi pada 20 Januari 2010 lalu. Longsor merusak sembilan rumah penduduk, lima di antaranya hancur tertimbun. Musibah itu mengakibatkan lima orang tertimbun dan ditemukan tewas.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera ini menyatakan pada saat melakukan reses itu banyak warga yang menempati lahan rawan longsor yang mempertanyakan soal lahan relokasi. Mereka mengeluh karena masih terkatung-katung menunggu kepastian soal janji relokasi yang dinyatakan para pejabat pemerintah pasca terjadinya bencana longsor. "Mereka terkatung-katung karena hingga kini mereka masih menumpang di rumah kerabatnya," ujar Sri Praptono.

Atas adanya keluhan itu, Sri meminta agar pemerintah segera memberikan lahan relokasi yang aman dari bencana longsor.

Selama ini Wonosobo merupakan salah satu daerah yang rawan terjadinya longsor. Dari 15 kecamatan yang ada di Kabupaten Wonosobo, lima kecamatan di antaranya masuk dalam zona merah sebagai kawasan rawan longsor.

Lima kecataman itu adalah Kejajar, Watumalang, Wadas, Lintang dan Kaliwiro. Selain itu ada tiga kecamatan yang rawan puting beliung, yakni Galung, Keretek dan Kali Kajar.

ROFIUDDIN