Diculik Saat Berangkat Sekolah, Masita Jadi Korban Trafficking

TEMPO Interaktif, Jombang - Masita Andarini Nita Malili, 16 tahun, siswi kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, yang hilang sejak 7 Juli lalu, akhirnya mengirim kabar kepada orang tuanya, Siti Mutmainnah, 43 tahun.

Masita mengaku dibawa pergi dua orang tak dikenal ke Banten dan dipekerjakan sebagai buruh rumah tangga dengan iming-iming gaji Rp 3,1 juta per bulan.

Pengakuan Masita ini disampaikan kepada ibunya melalui pesan pendek (SMS). "Dia juga bilang kalau SMS dan telepon sebaiknya subuh saja, karena kalau ketahuan nyonya dan tuan handpone-nya diambil," kata Siti membacakan bunyi SMS anaknya, Selasa (27/07).

Seperti diberitakan, Rabu siang (7/07), Masita pamit kepada orang tuanya hendak berangkat sekolah karena ada kewajiban daftar ulang. Namun, hingga saat ini dia tak juga pulang ke rumah.

Dalam pesan pendek yang dikirim ke ibunya, saat di pinggir jalan hendak mencegat angkutan jurusan sekolah, dia dihampiri dua orang tak dikenal. Dia ditawari tumpangan dan akan diantar ke sekolah. Tapi, dua orang itu malah mengajak Masita keliling hingga malam.

Warga Dusun Sukoharjo, Desa Penggaron, Kecamatan Mojowarno, itu ternyata tak sendiri. Bersama sekitar enam anak dia dikumpulkan di sebuah rumah dan dijanjikan pekerjaan dengan gaji tinggi. Anak-anak itu ada yang dari Surabaya, Probolinggo, dan Pasuruan.

Besoknya dia dinaikkan sepeda motor, lalu diantar ke rumah juragannya di Banten. Di rumah sang juragan baru itu dia mendapat fasilitas lebih.

"Sejak hilang itu dia sudah mengirim 67 SMS, semuanya saya catat, dan saya jadikan bukti. Bukti SMS sudah saya laporkan ke kepolisian sektor dan WCC," kata Siti.

Sholahudin, Koordinator Divisi Pelayanan dan Pendampingan WCC, mengatakan Masita jelas menjadi korban trafficking. Indikasinya adalah pengakuannya melalui bukti SMS itu. Modus penculikan anak dengan iming-iming pekerjaan dengan gaji tinggi ini memang marak, terutama menjelang tahun ajaran baru. Sasaranya adalah siswa SMA yang labil.

Sebelum hilang, Masita sempat meminta orang tuanya membelikan sepeda motor, mengajak jalan-jalan ke Bali, dan ingin punya kalung. Tapi karena tak punya biaya, orang tuanya tak sanggup menuruti permintaan Masita.

"Gayung pun tersambut saat Masita ditawari orang pekerjaan dengan gaji tinggi. Karena labil, dia ikut saja tanpa pikir panjang," kata Udin.

Bukti lain, dalam SMS Masita juga mengatakan perempuan-perempuan yang dikumpulkan dalam satu rumah bersama dirinya juga bernasib sama. Kebanyakan mereka diculik saat hendak daftar ulang.

"Masita mengaku bersama satu anak perempuan dari Pasuruan. Dia dibawa saat berangkat sekolah dan dijanjikan pekerjaan dengan gaji tinggi," ujarnya.

Untuk mengungkap kasus ini, WCC sudah melakukan koordinasi dengan polisi. Kepolisian, kata dia, juga sudah mendatangi Indosat untuk melacak keberadaan nomor telepon. Dugaan sementara, Masita tidak di Banten, melainkan di Batam. "Dari pengakuannya, katanya Singapura dan rumah juragannya dekat," pungkas Udin.

MUHAMMAD TAUFIK