Seorang anggota Komunitas Indonesia's Sketchers Makassar sedang membuat sketsa gedung Museum Kota Makassar (26/7). TEMPO/Hariandi Hafid
Topik
Bekreasi Lewat Komunitas Sketcher
TEMPO Interaktif, MAKASSAR - Tangan kanan Anggraini bergerak ke sana kemari di atas secarik kertas putih ukuran A3. Ibu jari dan telunjuk memegang ujung pensil. Sedikit demi sedikit terbentuk goresan lurus, melingkar, dan bergelombang yang tak beraturan.
Garis demi garis terhubung hingga membentuk sketsa sebuah gambar tubuh manusia. Wanita yang disapa-Anggi ini sedang membuat sketsa Shanti, rekan sesama komunitas Indonesia’s Sketcher yang duduk membelakanginya.
Kurang dari 15 menit, sosok Shanti yang mengenakan baju kaos putih berhasil diabadikan. Sketsa memperlihatkan posisi duduk dengan punggung terlihat. Sebuah topi bulat ala koboi dikenakan wanita yang menjadi obyek gambar.
Anggi sangat tertarik dengan sikap duduk Shanti yang juga sibuk membuat sketsa. Hari itu, Minggu, 25 Juli 2010, komunitas sketcher berkumpul di Gedung Museum Kota di Jalan Balai Kota, Makassar, Sulawesi Selatan.
Banyak ibu-ibu dan anak-anak menyaksikan kepiawaian sketcher di gedung yang dibangun di masa kolonial Belanda berkuasa. Sebulan sudah mahasiswi Universitas Negeri Makassar ini bergabung di komunitas Indonesia’s Sketcher.
Menggambar sketsa merupakan aktivitas barunya. Dia terpanggil untuk membuat sebanyak mungkin dokumentasi sketsa gedung, aktivitas manusia dan jalanan. Ia bertekad membuat buku sketsa yang menggambarkan wajah Kota Daeng dari tahun ke tahun.
Mahasiswi semester empat Fakultas Fisika ini merupakan pelukis muda. Sudah 16 tahun, wanita berusia 20 tahun ini menekuni seni lukis melukis. Sejak usia empat tahun, ia belajar di Sanggar Seni Ujung Pandang pimpinan Bachtiar Hafid. Ada 100 piala di bidang seni lukis yang telah dikoleksi.
“Menggambar sketsa terbilang paling sulit, ketimbang melukis. Kita perlu menyimpan ikon Makassar agar tidak dilupakan,” ungkapnya.
Semua karya lukisan dan sketsa disimpan dan dapat dilihat akun situs jejaring sosial Facebook. Sehari dia meng-upload dua karya agar disaksikan generasi muda yang ingin mengetahui wajah Kota Makassar.
Kordinator Indonesia’s Sketchers Cabang Makassar, Shanti Yani, mengaku komunitas sketcher mulai diminati mahasiswa. Kebanyakan berasal dari jurusan seni rupa dari Universitas Negeri Makassar dan Universitas Muhammadiyah.
Ibu satu anak ini bersama sesama sketcher bertekad mendokumentasikan semua gedung dan jalanan. Tekadnya terdorong dari pembangunan kota yang kian pesat dan terus menghilangkan ikon bersejarah.
Dua minggu sekali, ibu rumah tangga berusia 30 tahun ini bersama sketcher mencari ikon kota. Indonesia Sketchers juga dijadikan ajang pertemuan dan mencari ide bagi sesama pehobi ilustrasi, pelukis, dan sketcher.
Sudah 20 peseni gambar dan lukisan bergabung di lembaga kesenian yang berpusat di Kota Jakarta. Benteng Fort Roterdam, Gedung kesenian Society de Harmoni, Pantai Laguna, dan Pantai Biringkassi serta Gedung Museum Kota, telah didokumentasikan.
Semua ikon bersejarah dibuat dalam bentuk sketsa. Manfaat dari kegiatan komunitas ini untuk melatih kepekaan melihat kondisi pembangunan. Serta menumbuhkan rasa cinta terhadap obyek.
Hasil karya para sketcher disimpan di blog Indonesia’a Sketchers Makassar. Termasuk dipajang di sekertariat Dewan Kesenian Makassar yang ada di lokasi Benteng Fort Roterdam.
“Kami fokus dalam pembuatan dokumentasi dan dilakukan dua kali seminggu. Kami ingin mempertahankan ikon kota agar selalu terjadi hubungan batin. Hasil karya akan disimpan dan dijadikan alat pameran,” ujarnya.
Untuk bergabung, persayaratan cukup memiliki komitmen dan kemauan untuk mendekomentasikan obyek penting. Kalau hanya sekadar ikut-ikutan, katanya, tidak akan berguna.
SULFAEDAR PAY