Topik
Tarik-Ulur Ungkapan Kasih Sayang
TEMPO Interaktif, Jakarta -Tak biasanya Novita Angie gelagapan saat menjawab pertanyaan. Padahal, sebagai presenter kawakan, ia biasa menghadapi berbagai pertanyaan. Lucunya, yang membuat Novita mati gaya adalah putrinya sendiri, Jemima, yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).
"Jemima bertanya, ''Mami, aku boleh cium temanku yang cowok enggak?''" kata Novita saat memandu kelas Cara Cerdas Menjawab Pertanyaan Anak Soal Seks dalam rangkaian Smart Parents Conference, yang diadakan PT Frisian Flag Indonesia di Jakarta, Sabtu lalu.
"Saya bingung, jadi langsung menjawab singkat, ''Enggak boleh.'' Tapi jawaban saya tak memuaskan. Dia malah tanya lagi, ''Tapi Mami suka cium Papi,''" katanya.
Ketika Novita mengatakan ia dan papi Jemima sudah dewasa, Jemima menyimpulkan sendiri. "Oh, berarti aku boleh ya cium temanku kalau sudah gede," kata Jemima. Giliran Novita makin bingung. "Eeeeeh, bukan begitu. Kamu boleh cium temanmu kalau sudah menikah," kata Novita kepada Jemima.
Kisah Novita mengisyaratkan satu hal. Tak mudah menunjukkan perilaku dan tindakan yang menunjukkan kasih sayang antarpasangan di depan anak-anak atau menjelaskan soal seks. Sebenarnya ini berlaku bagi semua pihak, tak terkecuali--sekaligus mungkin terutama--bagi public figure, yang tindakan dan ucapannya disorot masyarakat.
Walaupun ketika jatuh cinta, katanya, dunia milik berdua, tiap pribadi dewasa mesti sadar bahwa ada anak-anak yang melihatnya--mungkin tanpa sengaja--di sekeliling mereka. Anak-anak yang bakal terluka pertumbuhan mentalnya yang seperti spons menyerap air.
Novita Angie menyadari hal itu, tapi bagaimana dengan public figure lainnya? Bagaimana dengan orang tua lainnya yang tak peduli atau tak tahu cara yang layak dalam mengungkapkan perasaan kasih sayang kepada pasangan? Apakah lalu anak-anak harus disterilkan dari segala adegan kemesraan?
"Sebenarnya enggak begitu juga. Pelukan dan ciuman itu kan bentuk-bentuk ungkapan kehangatan. Anak-anak justru harus bisa melihat kehangatan itu ada di antara ayah dan bundanya, orang tua ke anak, kakak ke adik," kata Sani B. Hermawan, psikolog, kepada Tempo sesaat sebelum memandu kelas Smart Parents Conference.
Tapi Sani tak memungkiri bahwa anak-anak masa kini punya sumber informasi lebih banyak untuk melihat jenis kehangatan lain, seperti misalnya di televisi. "Nah, perbedaan jenis kehangatan ini yang harus dijelaskan kepada anak-anak, mengapa mereka tak boleh melihatnya, apalagi menirunya," kata Sani. Mengapa? "Karena adegan seperti ini adalah informasi di luar kapasitas otak anak untuk mengolahnya," kata perempuan berkerudung itu.
Sebuah survei kecil yang pernah dibuat Sani kepada 100 anak kelas V dan VI SD menyebutkan bahwa 80 persen anak sudah pernah menonton film dewasa. "Memang tidak dielaborasi film dewasa apa, bersama siapa, atau di mana," kata Sani, yang membuka kelas pendidikan seks untuk anak dan remaja di tempat praktek pribadinya. Tapi bisa diduga sebagian besar anak sudah pernah menonton adegan bermuatan dewasa yang bisa saja berupa tindakan peluk, cium, atau bahkan lebih dari itu. Apakah orang tua anak menyadari hal ini? Belum tentu.
Menurut Sani, orang tua harus menjelaskan kepada anak-anak dengan gaya bahasa yang bisa dipahami anak-anak atau bahkan dengan guyonan. Jelaskan saja efek mengganggu pada fisik anak yang akan muncul jika suka melihat-lihat adegan seperti itu di televisi atau bahkan dalam film dewasa.
"Katakan, ''Nilai sekolahmu akan turun karena konsentrasimu akan buyar, keringat akan bercucuran, napasmu jadi sesak, enggak enak banget. Belum lagi nanti kamu bisa kecanduan,''" kata Sani. Oh ya, anak harus tahu bahwa menonton adegan dewasa memang bisa membuat anak kecanduan.
Menurut Sani, lebih aman jika orang tua membekali anak dengan penjelasan pengetahuan akan efek negatif jika mengkonsumsi adegan seperti itu. Anak jadi punya kontrol pribadi untuk menolak segala rasa keingintahuan yang negatif. "Ketika melihat adegan di film atau televisi yang mengarah ke adegan dewasa, ia akan menutup matanya sendiri. Jika ditawari klip adegan dewasa oleh temannya, dia akan bisa ''say no''," ujarnya.
Semua itu, menurut Sani, sebenarnya terangkum dalam pendidikan seks, yang sayangnya masih ditolak beberapa orang tua. Mereka yang menolak biasanya belum paham tentang pendidikan seks. Ada lagi orang tua yang menolak pendidikan seks karena membandingkan pendidikan seks di sini dengan pendidikan seks di negara Barat, yang sudah lama dilakukan, tapi toh pergaulan bebas juga bablas terus.
"Tapi pendidikan seks di luar negeri tidak disertai pendidikan agama, moral, dan etika," kata Sani. Sementara dengan diimbangi pendidikan agama, moral, dan etika, anak justru akan diajari bagaimana punya kendali diri yang baik. Misalnya saja, mengapa seks pranikah harus dihindari.
UTAMI WIDOWATI
Mengasuh Anak dalam Kehangatan
1. Dalam dosis wajar, menunjukkan kehangatan kasih sayang antara ayah dan ibu, orang tua ke anak, serta kakak dan adik dengan pelukan dan ciuman justru menjadi stimulus yang baik untuk perkembangan anak.
2. Jelaskan mengapa di dunia luar sana ada jenis ungkapan kasih sayang dan kehangatan yang tak layak dilihat atau dilakukan anak-anak.
3. Orang tua tak bisa selama 24 jam terus-menerus mendampingi anak. Jadi siapkan anak untuk memiliki kendali atas diri sendiri untuk menolak pengaruh negatif dari luar.
4. Mulailah berhenti mentabukan bicara soal seks kepada anak. Tapi hati-hatilah dan bersikap bijak dalam memilih cara pengungkapannya.
5. Jangan berhenti belajar bagaimana menjadi orang tua yang efektif dalam mendidik anak.
6. Singkronkan setiap informasi apa pun bagi anak dengan nilai-nilai agama yang dianut, moral, dan etika dalam masyarakat.
BERBAGAI SUMBER | UTAMI WIDOWATI






