Harga Daging Ayam Mulai Naik Lagi  

TEMPO Interaktif, Bandung -Setelah sepekan terkahir sempat turun, harga daging ayam di Bandung kembali merangkak naik.

”Ada kenaikan Rp 1.500 (per kilogram) dari harga rata-rata Rp 26.875 (kemarin) ke Rp 28.375 (hari ini),” kata Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jawa Barat Ferry Sofwan Arif di Bandung, Kamis (5/8).

Harga daging ayam itu bervariasi dari Rp 28 ribu per kilogram sampai Rp 29 ribu perkilogram. Harga daging ayam sempat mengalami lonjakan sebelumnya pada Juni-Juli lalu hingga menembus Rp 26 ribu per kilogramnya bulan lalu. Harga sempat stabil sepekan terakhir sebelum akhirnya melonjak lagi.

Fluktuasi harga daging ayam itu membuat pedagang pasar tradisional berunjuk rasa. Kelompok Persatuan Pasar dan Warung Tradisional (Pesat) Jawa Barat meminta pemerintah daerah untuk ikut campur meredam gejolak harga itu.

“Pergerakan permainan harga ini kalau dibiarkan akan terjadi monopoli pemasaran, akhirnya masyarakat kecil yang jadi korban,” kata Ketua Pesat Jawa Barat Usep Iskandar Wijaya di sela unjuk rasa pedagang di depan Gedung Sate Bandung.

Usep mengatakan, terus bergejolaknya harga daging ayam di tingkat pengecer ini membuat banyak pedagang pasar gulung tikar. Dia mencontohkan, di Kota Bandung, dari 100 pedagang ayam di pasar Ciroyom dan Pasar Andir, tersisa 40 pedagang saja yang masih bertahan.

Pedagang ayam yang tadinya sanggup melepas hampir 100 ekor ayam per hari kin rata-rata hanya sanggup menjual 20 ekor ayam. Para pedagang pasar itu khawatir kenaikan harga daging ayam makin tidak terkendali. Penyebabnya, papar Usep, harga DOC atau bibit ayam yang biasanya memicu kenaikan harganya terus berubah.

Dia mencontohkan, kemarin harga DOC masih Rp 4.200 per ekor dalam semalam terus berubah naik, dari Rp 5.300 hingga kabar yang diterimanya sudah menembus Rp 7 ribu per ekornya. Harga DO atau daging ayam dari kandang yang asalnya Rp 13.500 melejit menjadi Rp 20 ribu per ekornya.

Kelompok pedagang pasar itu menuding gejolak harga ini dipicu oleh ulah distributor besar. Dengan alasan stok ayam kurang, bandar ayam dibatasi pembeliannya. Efeknya pedagang pengecer di pasar sulit mendapatkan ayam hingga memicu harga tinggi.

Dinas Peternakan sudah meminta perusahaan pembibitan ayam untuk menaikkan produksinya serta memprioritaskan penjualan bibitnya pada peternak yang sudah lama menjadi mitranya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagagan Jawa Barat Fery Sofwan Arif mengatakan, pemerintah tidak bisa campur tangan untuk mengendalikan harga daging ayam.

Pemerintah, lanjutnya, tidak menetapkan batasan harga atas atau harga bawah untuk daging ayam. ”Ini mekanisme pasar,” kata Ferry.

Dia mengusulkan agar Komisi B DPRD Jawa Barat memfasilitasi pertemuan antara pedagang pengecer dengan asosiasi pengusaha unggas untuk membicarakan soal itu.

AHMAD FIKRI