TEMPO/Arie Basuki
Topik
Listrik Padam, Ratusan Ton Udang Eks Dipasena Mati Mendadak
TEMPO Interaktif, Lampung -Udang milik ratusan petambak plas PT. Aruna Wijaya Sakti atau Eks Dipasena mati mendadak. Penyebab kematian udang jenis vanamei itu duduga akibat padamnya aliran listrik yang dipasok perusahaan.
“Udang stres dan kehabisan oksigen karena kincir air mati lebih dari sepuluh jam,” Nafian Faiz, ketua Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu Dipasena, Sabtu (14/08).
Ratusan tambak yang berada di Blok 2 dan Blok 3 hampir semua udang yang siap panen musnah. Sekitar 190 petak tambak yang siap panen itu diperkirakan akan menghasilkan 115 ton udang. “Diperkirakan setiap petambak merugi Rp 25 juta hingga Rp 30 juta,” katanya.
Hal yang sama diungkapkan Thowilun, ketua Lembaga Manajen Petambak Tingkat Kampung. Dia mengatakan kematian udang di tambak mereka yang baru budidaya udang setelah vakum bertahun-tahun itu karena manajemen perusahaan tidak becus mengurus generator listrik.
“Mereka bertanggung jawab atas terhentinya pasokan listrik. Kami membayar listrik sangat mahal untuk itu harus ada kompensasi,” katanya.
Sayangnya, Thowilun mangaku hingga saat ini tidak ada satu pun manajemen PT. AWS, anak perusahaan CP Prima yang bisa ditemui. Semua petinggi perusahaan, kata dia, tidak satu pun nongol. “Kami harus tahu penyebab padamnya listrik. Selama menjadi petambak, tidak pernah listrik padam mendadas saat tambak berisi udang,” katanya.
Padamnya listrik itu membuat para petambak ragu dengan kemampuan teknologi CP Prima. Petambak merasa perusahaan pembuat pakan ternak itu sangat kedodoran mengelola ribuan petambak eks Dipasena, milik Syamsul Nursalim itu. “Belum lagi revitalisasi yang terus molor dari jadual. Petambak selalu merugi meski berganti manajemen,” katanya.
Menurut data Perhimpunan Petambak Plasama Udang Windu Dipasena, udang yang mati akibat padamnya listrik itu rata-rata berumur 75 hari.
Petambak sangat berharap bisa panen menjelang kebaran. “Sebenarnya udang itu menjadi harapan petambak dan keluarganya untuk merayakan lebaran,” kata Nafian.
Sementara itu pihak manajemen PT. AWS tidak satu pun berada di lokasi. Tempo berusaha mengkonfirmasi perihal kematian udang milik petambak juga belum berhasil.
NUROCHMAN ARRAZIE





