foto

TEMPO/Fahmi Ali

Bank Tingkatkan Kredit ke Petani Mendekati Musim Panen

TEMPO Interaktif, Makassar - Permintaan kredit memasuki musim panen padi tahun ini meningkat sehingga perbankan ikut meningkatkan kucuran dananya. Salah satunya Bank Rakyat Indonesia berencana menyalurkan kredit sebesar Rp 200 miliar.

"Permintaan kredit tambahan ini murni datangnya dari bapak Gubernur Sulawesi Selatan," kata Khairi Setiawan, Kepala Kantor Wilayah Bank Rakyat Indonesia saat dihubungi Tempo, Selasa (17/8).

Salah satu mekanisme penyaluran kredit sebesar Rp 200 miliar, kata Khairi, yakni suku bunga, plafon kredit per petani, dan jangka waktu pengembalian. "Kami masih menyusun secara detil jangka waktu pengembaliannya," katanya.

Dia menambahkan, permintaan kredit bisa melonjak terutama menjelang panen hasil bumi. "Kredit kami memang khusus menawarkan kredit di sektor pertanian dan perkebunan. Kami dengar memang saat ini sudah dekat musim panen, seperti coklat, padi dan jagung," ucap dia.

Untuk menutupi kebutuhan dana di sektor pertanian, Khairi berharap pemerintah daerah juga mampu mendekati sejumlah perbankan lain demi menambah kredit di sektor ini.

Bank Negara Indonesia 46 Makassar juga telah menyiapkan tambahan kredit sektor pertanian sebesar Rp 250 miliar rupiah. Tambahan ini diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan sektor pertanian yang sempat turun pada triwulan kedua tahun ini. Selain itu, juga diperuntukkan di sektor perdagangan.

Bank Central Asia (BCA) Makassar juga telah menyalurkan dana untuk kredit, terutama kredit hasil bumi sebesar Rp 100 miliar. Kepala Pemasaran Bank BCA Makassar, Elvriawati Tumewah mengatakan, permintaan kredit di sektor tersebut mengalami permintaan hingga 10 persen.

"Dengan peminjaman di kisaran Rp 500 hingga Rp 10 miliar. Ini yang dominan berasal dari para usaha hasil bumi. Barangkali karena bulan ini masuk masa panen, seperti coklat, padi dan jagung," ucapnya.

Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengatakan, di Sulawesi Selatan masih banyak kelompok tani yang belum dapat mengakses kredit di perbankan. Dari total 36 ribu kelompok tani, baru sekitar 6000 lebih kelompok tani yang dapat mengaksesnya.

“Kita masih memerlukan dukungan perbankan. Kalau mengandalkan bantuan dari pemerintah pusat, dananya sangat terbatas. Oleh karena itu, peran perbankan sangatlah penting,” kata Syahrul Yasin Limpo.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Selatan, Luthfi Halide mengatakan, petani di Sulawesi Selatan saat ini membutuhkan dana sedikitnya Rp 150 miliar. "Ini untuk membiayai budidaya pasca panen, dan juga biaya pembelian mesin-mesin pertanian," katanya.

Menurut Luthfi, dana tersebut nantinya akan disebar kepada 14 ribu kelompok tani di Sulawesi Selatan, dengan jumlah satu kelompok tani mencapai 20 hingga 25 orang.

"Untuk pengelolaan lahan, kami berikan bantuan sebesar Rp 2,5 juta per petani yang menggarap lahannya," jelasnya.

ICHSAN AMIN